Showing posts with label Touring. Show all posts
Showing posts with label Touring. Show all posts

June 12, 2008

Curug Nangka 07-06-08 (bagian 2 - habis)

Duuuuh... maaf banget baru bisa ngelanjutin ceritanya...
kerjaan lagi banyak banget niii... so mohon maaf jika nanti review nya tidak sedetail seharusnya... (udah banyak yang lupa)

Kami memasuki gerbang Curug Nangka dengan suka cita, rasanya seperti kembali ke 'keadaan yang seharusnya'. Rasa ketika kita kembali ke alam, jauh darikebisingan kota, memang sangat menentramkan.

Kuhirup dalam-dalam udara bersih untuk membersihkan paru-paruku... dan.. rasanya memang beda... Udara memang nikmat sekali jika kita menghirupnya dalam-dalam dan sambil menikmatinya, membayangkan kita mengikuti udara masuk ke pipa-pipa menuju paru-paru dan kemudian keluar lagi (jarang sekali kita menyadari bahwa menghirup udara adalah suatu kenikmatan )

Setelah memarkirkan motor kami di depan sebuah warung makan, Petualangan mencari Curug Nangka pun kami mulai.

Dimulai dengan menyeberagi jembatan kecil, sampailah kami ke daerah kawasan wisatanya.

Di sebelah kiri kami lihat hamparan pohon pinus (kalo gak salah identifikasi) yang terlihat sangat terawat. di sebelah kanan, kami melihat penginapan/vila dan tanah lapang yang cukup luas yang disediakan untuk pengunjung yang ingin camping. Sedangkan di depan kami, kami lihat terdapat mushola dan tempat beristirahat.

Tidak beberapa lama kemudian, kami bertemu dengan seorang pemandu wisata yang umurnya sudah setengah Baya (mohon maaf lupa menanyakan nama beliau) yang kemudian menemani kami menuju curug-curug yang ada. Bapak ini dengan ramah mengantarkan kami ke curug, satu demi satu, dan bahkan menunggui kami ketika kami asyik membidik objek foto. Saya sangat menyesal karena pada saat itu, beberapa teman kami menganggap Bapak ini pasti mau minta uang sehingga kami kurang ramah terhadap beliau, bahkan mengabaikannya ketika beliau berbicara... Sungguh suatu sikap yang sangat buruk.. karene ternyata hingga akhirnya kami pulang, bapak initidak meminta bayaran sedikitpun...

Jumlah curug di kawasan wisata Crug Nangka ini menurut Bapak ini ada lima buah, dan yang paling dekat adalah curug Nangka.

Untuk melihat curug Nangka ini, kita harus turun ke jalur kanan bawah dari jalur utama. Dari jalur kanan bawah ini, untuk melihat curug Nangka bisa dicapai dengan dua cara. Cara pertama adalah jalur (meminjam istilah Bapak pemandu) pendekatan dengan air (mengikuti sungai menuju curug, main basah-basahan) dan yang kedua adalah pendekatan dari atas (tanpa membasahi diri).
Jika ingin petualangan yang lebih seru, kami sarankan untuk melakukan pendekatan air. Karena kami lebih berniat untuk memfoto curug, dan membawa kamera yang takut basah, maka kami mengambil pendekatan atas, karena dari pendekatan atas ini, curug nangka bisa difoto hampir keseluruhannya tanpa perlu lensa khusus panorama, dan lagi lebih tidak beresiko :)

Namun jangan khawatir, bagi yang sudah terlanjur mengikuti jalur atas, jika kemudian berubah pikiran dan ingin bermain dengan air juga bisa kok, tinggal turun saja, ada jalan setapak (benar-benar setapak-se telapak kaki) yang curam dan licin (harap sangat berhati-hati ya..)

Curug Nangka sendiri sebenarnya cukup bagus, sayangnya arus airnya kurang deras... mungkin karena kurang tinggi, atau memang debit airnya yang kecil sehingga bagiku curug Nangka terlihat seperti 'curug-curugan'.

Setelah puas dengan Curug Nangka, kami melanjutkan perjalanan menuju ke Curug Daun.
Untuk mencapainya, dari tempat Curug Nangka, kami harus naik terlebih dahulu, dan menyusuri pinggiran sungai ari daratan(tidak bisa langsung mengikuti arus air melalui sungai).

Jadi kami naik terlebih dahulu ke atas (melalui jalan setapak dan kemudian mengikuti kelok-kelok sungai dari daratan pinggiran sungai dengan dipandu oleh Bapak Pemandu.
Tampak sekali bahwa Bapak Pemandu ini sangat mengenal 'daerah kekuasaannya' karena sangat hapal batu-batu mana yang harus diinjak, dimana harus melangkah dengan kaki kanan dan dimana harus menggunakan kaki kiri.

Tidak beberapa lama kemudian, sampailah kami ke Curug Daun, ketinggian curug daun mungkin hanya sekitar 6 meter, sehingga menurutku belum pantas disebut curug :p dan mungkin karena itulah banyak orang yang datang ke sini mengatakan hanya melihat 2 curug, karena Curug Daun yang mereka lewati ini tidak dianggap sebagai curug...

Curug ini, kata Bapak Pemandu, biasanya digunakan untuk mandi oleh kaum hawa... dan memang waktu kami sampai ke sana ada dua orang kaum hawa yang sedang duduk-duduk di bebatuan di bawah curug sambil main air dengan kedua kakinya (mungkin sudah mandi atau malah baru akan mandi) dan yang satu (yang berbaju ungu) lumayan manis :p

Air di curug ini sangat jernih dan segar, sehingga membangkitkan keinginan untuk mandi atau menceburkan diri ke air... sayangnya, kami tidak persiapan untuk mandi, sehingga tidak membawa baju ganti... Nah, bagi pembaca yang akan ke Curug Nangka, kusarankan untuk membawa baju ganti... Rugi deh kalo gak mandi di sini... :)

Setelah beberapa kali mengambil foto, kami melanjutkan perjalanan ke Curug Kawung. Perjalanan dilakukan dengan mengikuti arus sungai dan terkadang mengikuti arus sungai langsung di sungai itu sendiri. Perjalanan ke Curug Kawung agak sedikit menantang... dan di sepanjang perjalanan kita akan disuguhi pemandangan alam yang begitu menarik, bebatuan di sebelah kiri yang meneteskan air terlihat sangat cantik...

Beberapa saat kemudian, setelah perjalanan naik-turun di jalanan yang licin, sampailah kami di Curug Kawung... wuiiiih... kami cukup terkejut... karena tampaknya Curug Kawung ini adalah curug yang tertinggi di daerah ini. Curugnya sendiri sangat indah... bagian atasnya kecil dan makin membesar ke arah bawah. Nah di bagian bawah curug tsb, kita akan menemukan sebuah batu besar yang setiap detiknya dihajar oleh curahan air terjun yang menurut Bapak penjaga di situ dahulunya berbentuk Kepala Harimau (menurutku, batu ini sekarang berbentuk lebih seperti kepala tikus) yang merupakan lambang kebesaran kerajaan Pasundan.

Di curug ini, kamu juga bisa mandi di bawah air curug, karena meskipun curugnya tinggi, debit airnya tidak begitu banyak, sehingga masih bisa digunakan untuk 'mandi shower' :)

Di sini kamu juga bakalan menemukan satwa monyet... ada banyak satwa monyet di sini dan monyetnya sangat usil, so bagi yang membawa makanan... atau yang membawa bungkusan harap berhati-hati, karena pada saat kami di sana, kami melihat sendiri ada seekor monyet yang mengambil bungkusan milik salah satu pengunjung dan dibawanya ke dalam hutan... (Bayangkan kalo isinya HP Nokia E90.. kebayang deh berapa duit tuh...)

Di curug Kawung ini, kami memuaskan keinginan untuk memfoto kami... cukup banyak film yang kuhabiskan di sini, karena menurutku justru di curug Kawung inilah yang paling indah. Nanti kalo fotonya sudah ku scan, kutunjukin deh...

Dan berakhirlah perjalanan kami mencari curug (sebenarnya masih ada dua curug lagi di atas)... Namun karena sudah kelaparan (dari pagi belum sempat sarapan), hari juga sudah agak siang dan sudah mulai ramai pengunjung, dan (yang paling penting) karena film di kameraku tinggal 2 buah, kami memutuskan untuk tidak melanjutkan mencari dua curug di atasnya...

Oh iya, sebelum kembali ke Jakarta, kami memutuskan untuk 'wisata kuliner' di kota Bogor... dan kemudian menyempatkan diri mampir untuk membeli Roti Unyil khas Bogor di dekat teminal Baranangsiang.

Demikianlah kunjungan kami ke Curug Nangka.. jika ada waktu lagi, pengin banget rasanya camping di Curug Nangka ini... :)

see you at my next-trip's report

June 9, 2008

Curug Nangka 07-06-08 (bagian 1)

Akhirnya, hari sabtu kemarin (07/06/08) Aku jadi ke Curug Nangka bersama dengan Yani, Henry, Anto, dan Novel menggunakan 3 buah sepeda motor (Jupiter MZ, JupiterZ, dan aku menggunakan Minervaku, Kaze R merah).

Perjalanan yang rencananya berangkat jam 05.30 dari Jakarta sempat molor hingga beberapa jam karena ban motor teman kami bocor. Akhirnya kami baru berangkat dari Cawang-UKI sekitar jam 07.45.

Perjalanan dimulai dengan mengarahkan motor kami ke arah Bogor, melalui Pasar Kramat Jati. Perjalanan ke Bogor ini kami jalani dengan sangat pelan (rata-rata 50 Km/jam) karena kemacetan di mana-mana. Kalo berangkat dari Jakarta sudah kesiangan, ya emang gitu deh... maceeeet T__T

Dan seperti biasa, di antara kami berlima, tidak ada satupun yang tahu jalan ke arah Curug Nangka (kebiasaan nih... jalan cuma tahu tujuan, dan kemudian mengandalkan 'ntar nanya aja ama orang'), untungnya kami (aku dan Yani) sudah mengetahui bahwa kira-kira letak Curug Nangka itu di daerah Bogor, dan untungnya juga aku sudah beberapa kali naik motor melewati Bogor, termasuk ketika ke Ujung Genteng beberapa waktu yang lalu. (Heran juga sih, kok yang lain pada mau ikutan yak, padahal aku sendiri waktu ngajakin udah bilang bahwa aku gak tau tempatnya secara pasti, hanya tau 'di arah ke Puncak', dan hal ini pin tidak sepenuhnya betul, karena Curug Nangka berada di Ciapus, bukan di daerah Puncak :D :D )

Untuk ke Curug Nangka ini, dari Jakarta Kami melalui Cimanggis, sedikit menyentuh Depok, kemudian Cibinong, dan akhirnya Kota Bogor.

Setelah melewati Terminal Baranangsiang (terminal ini berada di kanan jalan, dan mungkin kamu tidak akan melihatnya jika tidak memperhatikan) menuju ke arah puncak, kamu akan menemui jalanan yang mirip dengan jalan Dago di Bandung (banyak Factory Outlet) dan kemudian akan bertemu dengan pertigaan yang ada lampu merah dan bunderannya, dan di situ ada petunjuk jalan bahwa untuk ke Ciapus kami harus memutar di bunderan, ke arah kanan. Nah jalan inilah yang kita ikuti, menuju ke arah Ciapus.

Jalan menuju ke Ciapus ini aspalnya cukup baik, dan jalannya cukup sejuk karena di kanan-kiri jalan masih banyak pepohonan. Kami juga melewati beberapa peninggalan sejarah, salah satunya adalah istana batutuilis, namun kami tidak menyempatkan diri untuk mampir karena tujuan utama kami belum tercapai dan belum tau masih sejauh apakah kami dari tujuan ?

Dalam perjalanan, nanti kamu bakalan menemui sekolah, kemudian ketika bertemu dengan lampu merah pertigaan Pasar kamu ambil jalan yang lurus aja,jangan ke kanan, soalnya kalo ke kanan berarti kembali ke kota Bogor.

Pokoknya jalan ke arah Ciapus itu luruuuuuuus terus... baru nanti ketika ada pertigaan jalur Angkot no 3 (jurusan Ciapus), baru kamu ambil jalan yang ke kiri (jalannya agak naik, dan di situ banyak angkot yang mangkal.. so gampang diketahui).

Nah.. jalan inilah yang kondisi jalannya agak jelek... beberapa bagian jalan ada yang rusak, namun tidak parah kok.. masih jauh lebih parah jalan ke Ujung Genteng, dan hanya sekitar 2 kilometer yang jalannya jelek.

Kamu akan menemui Pusat pelatihan kelautan (atau perikanan ya?), trus juga menemui sebuah gang yang namanya unik, Gang Bebas :D

Kemudian setelah jalan yang jelek ini, nanti akan ditemui lagi jalanan yang mulus, berkelok-kelok, dan naik turun (seru bangeeeeet !) dan setelah berkendara beberapa menit, kamu akan menemui papan penunjuk jalan ke arah Curug Nangka di suatu pertigaan. Kamu ambil jalan ke kiri, dan jalan ini agak jelek juga... tapi tenang... cuma sebentar kok... udah hampir nyampe :) (Kalo dihitung, kira-kira jarak ke Curug Nangka ini adalah sekitar 20Km dari Kota Bogor)

Oh ya, sebelumnya kamu juga bakalan ketemu ama Indomaret di sebelah kiri jalan, so bagi yang gak bawa bekal, bisa beli di Indomaret ini (Aku sempat heran, kok Indomaret selalu ada di dekat tempat wisata yak? -- dulu waktu ke Ujung Genteng juga ada Indomaret)

Akhirnya, setelah melewati jalanan yang dipenuhi oleh vila-vila mewah (enak ya jadi orang kaya, punya Vila di tempat yang asyik), kami sampai juga di gerbang masuk Taman Wisata Curug Nangka. Gerbangnya cukup baik, cukup menggambarkan wisata hutan yang akan kami alami.

Untuk masuk ke tempat wisata ini biaya per orang adalah Rp 4000 dan per motor Rp 1000 (nanti untuk parkir harus nambah 2000 lagi -- yang ini entah legal atau ilegal).

bersambung... (mau kerja dulu :D )

May 24, 2008

Kota tua

Ehm... perjalanan kali ini adalah menuju Kota Tua, Jakarta. Kota Tua terletak di dekat Stasiun Kota, Jika kamu tidak memiliki kendaraan pribadi, saya sarankan menggunakan jasa Trans Jakarta (Busway) untuk ke Kota Tua ini. Turun di halte Stasiun Kota (Halte terakhir) kemudian jalan sedikit menuju kota tua.

Pemandangan di kota tua... lumayan unik. Bangunan di sana rata-rata adalah bangunan Belanda dengan arsitektur gaya eropa jaman pertengahan. Sayangnya, kebanyakan dari bangunan di situ tidak terawat sehingga rusak di mana-mana, mulai dari catnya, temboknya, atau bahkan atapnya rusak.

Akhirnya setelah jalan-jalan sebentar ketemu juga daerah dimana banyak fotografer sedang beraksi. Di sini banyak sekali yang melakukan foto pra pernikahan... dan fotografernya juga membawa alat-alat yang membuat mental jadi drop (reflektor, lensa panjang, flash tambahan yang ada alat tambahannya -- gak tau apa namanya, tripod -- kalo ini aku juga bawa, meski gak dipake :p ) So memang benar bahwa Kota Tua ini memang sangat bagus untuk foto-foto :)

Kami (aku dan cm4nk ) mulai mencoba memotret-motret bangunan paling bagus di situ (Museum Sejarah Jakarta/Museum Fatahilah). Dengan berbekal 10 film (bukan 10 roll film yak) kucoba potret-potret seadanya dengan gaya seaksi-aksinya :D

Setelah beberapa kali memotret di Luar Museum Fatahilah, kami berpindah ke Museum di seberangnya (kalo gak salah museum senirupa dan keramik), tapi tidak masuk, hanya mengambil foto bangunannya dari luar.

Kemudian kami kembali lagi ke Museum Sejarah Jakarta, dan kali ini masuk ke museum.
Untuk masuk ke museum, per orang dikenai biaya Rp 2000,- dan di dalamnya.. ehm... banyak objek foto, terutama kalo yang suka dengan objek furniture jaman kuno(meski ada tanda larangan memotret, tapi ketika kami masuk, kami mengalungkan kamera kami dan tidak diminta menitipkannya tuh.. jadinya kami tetep memotret di dalam museum :p )

Setelah puas (film nya sudah habis) kami keluar, dan mencoba mengambil beberapa foto bangunan museum lagi...

Oh ya, bagi yang membutuhkan objek sepeda, di daerah Kota Tua ini banyak disewakan sepeda onthel jaman kuno... so jangan khawatir deh...

Ehm... kalo diliat-liat, sepertinya kalo malam, beberapa bangunan di Kota Tua ini akan lebih indah lagi, karena itulah kami merencanakan untuk kembali lagi minggu depan (kali ini dengan roll film yang masih full :p)

Ehm... hasil fotonya gimana ya... ntar kalo udah kucuci-cetak dan ada yang bagus kuupload... tolong komentari yak :)

Thanks you....

May 21, 2008

Ujung Genteng 17-18 Mei 2008 (Bagian 2-habis)

Pantai Ujung Genteng
foto di atas bukan foto saya, saya ambil dari picturesart.files.wordpress.com

prev : ujung genteng bagian 1

Akhirnya, setelah puas melihat tiga pantai di seberang hutan, dan menentukan tempat besok pagi akan mengambil foto sunrise, kami semua keluar dari hutan, dan kali ini misi kami adalah mencari penginapan.

Ternyata, banyak sekali penginapan di sekitar situ, mulai dari penginapan yang biasa sampai dengan yang 'ditemani'.
Wuih.. ngeri juga yak...

Setelah bertanya-tanya ke beberapa penginapan dan ternyata penuh semua (kami hanya bertanya kepada penginapan yang biasa, tidak yang ditemani), akhirnya kami bertemu dengan seorang penduduk yang merelakan rumahnya untuk disewa, sehingga beliau, istri dan anaknya terpaksa tergusur untuk dua hari.

Kami mendapat harga 350rb untuk 2 hari. Harga yang relatif murah karena dibagi 7 orang, yang berarti Rp 25.000 sehari :) Dengan harga segitu, kami sudah mendapat fasilitas cukup lengkap (namanya juga rumah), mulai TV, DVD player, tape, kompor, piring, gelas, sendok... yaa lengkap lah.. soalnya rumah tsb memang untuk ditinggali... bahkan ada dua buah kipas angin juga di dua kamarnya.

Setelah mandi dan makan mie, kami pun tidur pulas, tidur malam itu sangat enak.. mungkin karena sudah kelelahan selama hampir 12 jam berkendara di atas sepeda motor. (ini adalah waktu terlama keduaku di atas sepeda motor, rekor terlamaku adalah 15 jam, waktu melakukan perjalanan dari Parakan-Jogja-Kebumen-Bandung dalam keadaan hujan lebat di separuh perjalanannya).

Paginya, jam 05.30 kami buru-buru menuju pantai... meski masih ngantuk dan masih lelah, namun semua itu tidak menghalangi kami untuk melihat sunrise (apalagi aku kan jam 09.00 pagi akan kembali ke Jakarta, jika tidak mendapat sunrise ini, buat apa capek-capek 12 jam perjalanan ke Ujung Genteng?)

Riyandi sang fotofrafer sudah duluan berangkat, dan aku menyusul. Sampai di pantai... matahari sudah mulai naik... tapi ada satu masalah... Mana Riyandi ? Masalahnya, meski aku membawa kamera SLR analog (Canon EOS 88) bukan berarti aku jago fotografi, justru kebalikannya.. aku mau minta diajari ama Riyandi cara motret, dan masalahnya Riyandi malah tidak berada di pantai yang 'dijanjikan'...

Wah.. masa gak jadi motret ? Karena udah bawa kamera, akhirnya kukeluarkan juga si kamera dan tripodnya, dan jepret-jepret ngasal (soalnya malu ama temen-temen yang lain yang berada satu pantai denganku kalo ketahuan aku gak bisa motret) Dan untungnya kameraku analog, so mereka gak bisa tau hasilnya bagus atau buruk, ha ha ha ha

Suasana pantai di pagi hari, sungguh menyenangkan, apalagi pantai Ujung Genteng sangat sepi dan indah... bagaikan memiliki pantai pribadi deh... yang ada di pantai saat itu hanya kami bertujuh !

Setelah matahari mulai naik... kami kemudian mencari
pantai lain yang enak untuk berenang... ternyata pantai di Ujung Genteng sangat bermacam-macam... ada yang dangkal, yang dalam, yang aquarium, yang ombaknya besar dst. Pantai nya juga bisa dilalui motor, kerena itulah kami dengan cepat bisa berpindah dari pantai satu ke pantai lainnya, dengan menyisiri pantai menggunakan motor.
Pokoknya asyik deeeh...

Setelah puas, kami pulang ke penginapan untuk menuju ke tujuan berikutnya...

Sayang, kali ini tujuan kami berbeda... Aku harus pulang karena hari senin masuk kerja, sementara yang lain akan melanjutkan 'perburuan' (mencari air terjun) Haduuuuh penginnyaaaaa T_____T

Jam 10.00 WIB, kami berangkat bersama dengan tujuan yang berbeda... hiks...
Tepat Jam 10.20 kami berpisah, rombongan 6 orang belok ke arah kiri (Ciracas) untuk memburu air terjun, sementara aku lurus (menuju ke Pelabuhan Ratu).

Kali ini aku memilih jalur Pelabuhan Ratu karena kata Bapak pemilik warung yang anaknya cantik, jalur Pelabuhan Ratu jalannya lebih baik. Dan memang benar, selain jalannya lebih baik, pemandangannya juga lebih indah, ada beberapa tempat yang mirip dengan puncak meski tanpa kabutnya... aku sempat berhenti beberapa kali untuk sekedar menghabiskan Roll film..

Selain itu, perjalanan pulang ini lebih kunikmati, tidak ngebut, banyak berhenti (foto-foto, minum kelapa muda dari buahnya langsung - harganya Rp 2500, istirahat di pom bensin, makan siang, dan bahkan sempat mampir ke rumahnya Iway). Sampai di Slipi, Jakarta Barat sekitar jam 18.50.. dan selesailah perjalanan ke Ujung Genteng yang melelahkan namun mengesankan itu...

Jika kamu punya libur lima hari, aku sangat menyarankan untuk ke Ujung Genteng, meski sangat jauuuuuuh, tapi sangat sepadan kok (apalagi kalo jalannya sudah dibenahi), dan aku sarankan agar kamu (termasuk yang dari Bandung) agar melewati jalur Cibadak.

Dari arah Jakarta, kamu akan menemui Cibadak ini sebelum memasuki kota Sukabumi, bagi yang dari Bandung, jika mau ke Cibadak, harus melewati Sukabumi dahulu ke arah bogor kemudian belok kiri di pertigaan yang mengarah ke Pelabuhan Ratu (ada penunjuk jalannya kok, tenang aja :p ) tapi kalo liburannya hanya 2 hari... ehm... sebaiknya jangan.. karena kamu akan terlalu kecapekan ketika masuk kerja pertama kali.

Foto-fotonya gimana ? Ehm... ntar kalo udah ku cuci cetak, dan ternyata ada yang bagus (sebenarnya gak yakin ada yang bagus sih...) akan ku upload kok :)

Kata Om Rizzurant, next trip nya ke Pangandaran... humm.. asyik nih :) Semoga bisa ikutan bertualang lagi :)

Hayuk pada ikutan yuuuk !

May 19, 2008

Ujung Genteng, 17-18 Mei 2008 (bagian 1)



Ujung Genteng, 17-18 Mei 2008.

Ujung Genteng is a remote coastal village, some 150 kilometers from Sukabumi. It took five hours to reach the village by private vehicles from Sukabumi because of the poor roads.
Public transportation does not reach the village as normally people would stop at the nearest village Jampang Surade and then walk along a dirt road to reach Ujung Genteng.
Fishing is the main source of livelihood for Ujung Genteng villagers.

Ya, itulah Ujung Genteng, Sebuah daerah wisata yang masih cukup alami, masih cukup bersih dan tidak terlalu ramai.

Gimana ceritanya sampai berkunjung ke Ujung Genteng ?
Semuanya serba tiba-tiba dan tanpa persiapan.
Hari Jumat malam, sekitar jam 20.00, aku chatting ama Riyandi, dan kami berbicara mengenai blog, mengenai les drum, mengenai foto, mengenai seorang backpacker yang sangat menginspirasi kami, dan akhirnya mengenai rencana riyandi hunting foto ke Ujung Genteng bersama teman-teman lab nya dari STT Telkom.

Entah bagaimana (sepertinya karena terinspirasi oleh backpacker dan karena melihat foto-foto Ujung Genteng yang menabjubkan-Riyandi menambahkan bahwa ujung genteng adalah surganya fotografer) aku kemudian tertarik dan bilang "Eh, gw ikutan ke Ujung Genteng yak" tanpa persiapan apa-apa :D

Paginya, aku ke tempat Adhy buat pinjem tas (tas ku udah rusak berat) dan kemudian jam 9.20 berangkat menuju ke Ujung Genteng. Asyiknya, aku sama sekali gak tau jalan ke ujung Genteng, hanya dikasih tahu, bahwa untuk ke Ujung Genteng, aku harus melalui Sukabumi. Padahal jalan ke Sukabumi aja gak tau, dan hanya tau bahwa Sukabumi itu (jika dilihat di peta) ada di bawah Jakarta :D

Akhirnya, setelah bertanya pada banyak orang, tahulah bahwa untuk ke Sukabumi, harus melewati Bogor. Sip, dengan ditemani lima buah lagu di Handphone Sony Ericcson + Headset Walkman Series, aku berangkat menuju Ujung Genteng.

Kemudian masalah pertama datang, ternyata aku gak tau jalan keluar dari Jakarta menuju Bogor, so ketika di UKI, aku bingung dan sempat nyasar ke arah Bekasi. Beruntung nyasarnya belum terlalu jauh (karena melihat tanda jalan bahwa jalan yang kulaui menuju Pondok Gedhe, dan itu daerah Bekasi, bukan Bogor! -- bener ga? )

Singkat cerita, aku sudah dalam perjalanan melewati Cibinong, Kota Bogor dan kemudian akhirnya Sukabumi. Di Sukabumi inilah aku dan Riyandi dkk janjian untuk bertemu. Akhirnya kami bertemu di Masjid Agung Sukabumi. Sungguh kebetulan bahwa rombongan dari Bandung (6 orang -- Riyandi, Rizzurant, Max_steel, ehm... yang tiga lagi namanya siapa yak, lupa.. maaf, nanti kuupdate setelah ingat-- menggunakan 3 motor) dan rombongan dari Jakarta (1 orang --silverant-- menggunakan satu motor) hanya berbeda sekitar 7 menit sampai ke Masjid Agung Sukabumi (aku sampai di Masjid Agung Sukabumi sekitar jam 13.30). Berati Jkt-Sukabumi ditempuh dalam waktu 4 jam, cukup lama memang, karena macet di mana-mana, mungkin karena libur panjang juga (Bagi yang mengambil cuti di hari senin, bisa mendapatkan libur 5 hari karena hari selasa adalah hari waisak).

Setelah Sholat Duhur, kami melanjutkan perjalanan menuju ke Ujung Genteng. Dari Bapak yang menjaga tempat parkir masjid, kami diberitahu jalan 'terbaik' menuju Ujung Genteng.

Wah... ternyata jalan ke Ujung genteng, benar-benar paraaaaaaaah T____T jalannya rusak berat, jadi hanya bisa dilalui dengan kecepatan rata-rata 35km/h.

Ketika sampai di pertigaan Ciareuy, kami sempat terhenyak waktu melihat papan penunjuk jalan. Waktu itu sekitar jam 15.30, dan di papan penunjuk itu tertulis bahwa Surade (seperti nama ninja cewek dalam film Naruto) masih 90 Km dari tempat tersebut !!

Wow.. dengan kondisi jalan seperti ini, sampai di Ujung Genteng jam berapa ya ? Padahal dari Surade ke Ujung Genteng (jika dilihat dari peta) masih ada setengahnya lagi... hiks...

Tapi dengan kebulatan tekad, jadilah kami melanjutkan perjalanan... dalam perjalanan kami sempat 'bertarung' dengan dua buah 'truk setan' (truk sopir yang mengemudi dengan cara yang ngawur, dan menutup jalan kami untuk menyalip).
Sebenarnya, jika jalannya mulus sih, mudah saja untuk menyalip mereka, sayangnya jalan yang buruk membuat kami sangat susah untuk mendahului dua truk setan ini.

Ternyata keasyikan belum berakhir, di tengah jalan ban salah satu motor kami bocor sehingga harus ditambal, padahal di daerah terpencil seperti itu (dimana jarak antar penjual bensin eceran saja sangat jauh), tentu saja penambal ban juga sangat jarang, tapi untungya ban bocor hanya beberapa ratus meter dari panambal ban terdekat-untuk kejadian ini, saya tidak ikut merasakan karena saya sudah berada jauh di depan dan saat itu sedang menikmati kopi panas dan ditemani cewek cantik, anak penjual kopi di 'kota' terdekat (di depan kantor polisi Pasawahan, warung makan sebelah toko alat tulis, anak gadisnya cantik lhoo... mungkin umurnya sekitar 16 tahun) :D

Setengah jam kemudian, sekitar jam 18.30 sampailah rombongan 'ban bocor' dan kami melanjutkan perjalanan lagi. Dan kali ini perjalanan jauh lebih menantang bagiku. Sudah bukan rahasia lagi bahwa aku tidak ahli dengan perjalanan malam hari. Selain lampu motorku yang sangat remang-remang (kalah ama lampu senter) dan menghadap ke atas, mataku pun agak kurang baik untuk melihat malam hari (kenapa ya?), ditambah minus yang gak kupakein kacamata (pake softlens sih, tapi kalo lagi naik motor gak dipake).
So perjalanan malam itu sungguh mendebarkan bagiku, apalagi punya pengalaman buruk dengan berkendara di malam hari (pernah jatuh)... Yang bisa kulakukan hanyalah mengikuti motor di depanku dengan tepat, ban motorku harus menginjak jalan yang diinjak ban motor di depanku agak tidak mengenai lubang. Namun hal ini ternyata bukan perkara yang mudah, dengan kecepatan kira-kira 40km/jam dan ku maintain jarak antara motorku dengan motor di depanku sekitar 2m, tetap saja aku beberapa kali terkena 'ranjau' jalan berlubang, bahkan ada lubang yang karena terlalu dalamnya membuat pergelangan tanganku 'cedera'.

Dan.. ups... masih ada keasyikan lagi, selama perjalanan malam yang panjang itu tidak terlihat penjual bensin eceran.. akhirnya setelah bertemu Pom Bensin resmi, kami pun berhenti, tapi... wuih.. antrinya parah banget. Bahkan Bapak-bapak yang sedang mengantri di situ berkata bahwa ada mobil yang sudah mengantri selama 3 hari untuk mendapatkan bahan bakar, padahal saat itu beberapa motor kami sudah kehabisan bensin.
Kemudian kami memilih membeli bensin eceran yang terdapat di dekat Pom bensin tersebut daripada mengantri. (Lho katanya gak ada penjual bensin eceran? Hehehe.. ternyata ada kok, cuma waktu itu aku gak liat, ternyata beberapa ratus meter sebelum pom bensin, di depan masjid, ada penjual bensin eceran maaf... :p)

Di pertigaan terakhir sebelum Ujung Genteng, kami menemukan Indomaret yang cukup besar untuk ukuran 'kota' di situ. Indomaret ini tampaknya buka hingga larut malam, dan cukup lengkap, so bagi yang ingin ke Ujung Genteng, tidak perlu khawatir akan bekal makanan. Di situ lengkap kok. Eh iya, di Indomaret ini harus pake uang cash, soalnya belum punya mesin EDC buat bayar pake 'gesek' kartu :)

Akhirnya....setelah mengendarai motor selama 2,5 jam yang sangat menantang... sampai juga ke Ujung Genteng...(di pasar ikan Ujung Genteng) Waktu itu jam 20.44, langsung deh kami semua merasa bersyukur, akhirnya telah sampai juga ke Ujung Genteng, tak lupa aku mengirim sms kepada orang yang kusayang, mengabarkan bahwa (akhirnya) aku sudah sampai... :)

Setelah itu, kami kemudian mencari 'tempat wisata' nya yang katanya (kata seorang penduduk) kalo malam minggu ramai sekali.
Nah, jalan ke tempat wisata ini ternyata melalui hutan-hutan yang gelap gulita... bahkan beberapa dari kami sangat ketakutan dan tidak mau motornya berada pada posisi paling belakang (mungkin takut diculik oleh makhluk halus) :D :D

Apalagi ketika di tengah hutan tersebut melihat bangunan tua (mungkin bekas benteng ??) yang dengan diterangi sinar bulan purnama yang pucat, tampak sangat mengerikan... kami semua hanya bisa mengendarai motor dengan terdiam (hi hi hi pasti lucu kalo ada kamera yang menyorot wajah kami waktu itu :D ). Dan ternyata, yang dikatakan 'ramai kalo malam minggu' itu adalah keramian semu, tidak ada orang sama sekali di pantai ! Ramai apanya !!?? rame hantu nya kali yak :p

bersambung... next ujung genteng bagian 2