hal (hal) yg pertama muncul ketika mengingat lensa-lensa ini ...
Canon EF 50 f/1.8
satu hal : tajam
dua hal : tajam, murah
tiga hal : tajam, murah, autofocus lambat
Canon EF 70-200 F/4 L USM
satu hal : tajam
dua hal : tajam,relatif murah
tiga hal : tajam, relatif murah, autofocus sangat cepat
Canon EF 17-40 F/4 L USM
satu hal : berwarna
dua hal : berwarna, kokoh
tiga hal : berwarna, kokoh, ringan
Canon EF 85 F/1.8 USM
satu hal : tajam
dua hal : tajam, portrait
tiga hal : tajam, portrait, autofocus cepat
Canon EF 24-70 f/2.8 L USM
satu hal : berat
dua hal : berat, tajam
tiga hal : berat, tajam, mahal
Canon EF 70-200 f/4 L IS USM
satu hal : tajam
dua hal : tajam, flexible
tiga hal : tajam, flexible, autofocus sangat cepat
Canon EF 100 f/2.8 L USM
satu hal : tajam
dua hal : tajam, sangat tajam
tiga hal : tajam, sangat tajam, andaikan f/2 bukan f/2.8
Sigma 85 f/1.4 DG
satu hal : missfocus
dua hal : missfocus, tajam
tiga hal : missfocus, tajam, autofocus agak lambat
Sigma 150mm Macro
satu hal : tajam
dua hal : tajam, terlalu jauh untuk portrait
tiga hal : tajam, terlalu jauh untuk portrait, kokoh
Canon EF-S 18-55 IS
satu hal : murah
dua hal : murah, flexibel
tiga hal : murah, flexibel, cukup baik
Canon EF-S 17-55 USM
satu hal : tajam
dua hal : tajam, Image Stabilizer
tiga hal : tajam, Image Stabilizer, flexibel
Canon EF-S 55-250 USM
satu hal : flexibel
dua hal : flexibel, murah
tiga hal : flexibel, murah, image stabilizer
Nikon D40 :
Satu hal : Ken Rockwell
Dua Hal : Ken Rockwell, I support my growing family through this website
Tiga hal : Ken Rockwell, I support my growing family through this website, help me help you
Showing posts with label Foto. Show all posts
Showing posts with label Foto. Show all posts
November 8, 2011
October 7, 2011
Pengalaman Service Lensa Canon EF 24-70 L di Datascrip
OK, pada awalnya saya agak pesimistis tentang pelayanan, biaya dan kecepatan pengerjaan service di datascrip. Hal ini dikarenakan membaca beberapa pengalaman buruk service di Data Scrip di beberapa forum fotografi.
Tapi karena lensa ini lensa mahal (lensa termahalku) sehingga terlalu berisiko jika dikerjakan/dibongkar oleh orang yg belum tentu bisa dipercayamau tidak mau saya kirim lensa ini untuk nginep di Datascrip.
Tanggal 8 September 2011 saya datang ke Canon Center di Ratu Plasa, selain karena letaknya paling dekat dengan kantor saya, juga pengin melijat Canon Center yg baru dibuka itu.
Letaknya ada di Lantai 1 dekat eskalator turun... di depannya terdapat toko kamera.
Ruangannya bersih, dengan dominan warna putih dan merah khas Canon.
Begitu melangkahkan kaki ke dalam saya disambut oleh mbak-mbak cantik (muka-muka model) yg ramah dan ditanyakan apa yg bisa dibantu. Setelah mengutarakan maksud saya, mbaknya mengatakan akan diperiksa dulu apakah bisa dikerjakan saat itu atau harus dikirim ke Canon Center di Mangga Dua. Kemudia atas informasi dari teknisi di dalam, lensa harus dikirim ke Mangga Dua, dan kebetulan sekali waktu itu kurirnya sedang datang, jadi tidak perlu menunggu lama ... suatu keberuntungan awal :)
Untuk biaya, pertama saya ditanya apakah masih garansi, saya bilang sudah tidak garansi namun tadinya garansi DS. Meski saya bilang sudah tidak garansi, mbaknya meng, mbaknya masih mencoba mengitung (dari kode garansi di kartu garansi) barangkali masih ada masa garansinya (kebetulan di kartu garansi tgl dan cap toko nya kosong). Ini bagi saya merupakan nilai plus. :)
Akhirnya diketahui biaya bongkar-pasang (labour) Rp 500.000 dan ditambah PPN 10%, jadi total biaya service Rp 550.000 belum termasuk sparepart. Jika ada penggantian sparepart, akan dikonfirmasikan dahulu. Sip.
*Sekalian sebagai informasi, untuk biaya bongkar pasang lensa Canon EF 70-200 Rp 700.000 + ppn 10% jadi 770.000 untuk biaya bongkar pasang lensa kit 300.000 + ppn, jadi Rp 330.000 belum termasuk penggantian spare part.
Untuk pengalaman saat memasukkan lensa ini, positif semua, kecuali bagian no SPK yg akhirnya harus ditulis tangan karena komputernya sedang bermasalah (Saya tidak tau dan tidak mencari tahu apakah komputernya, aplikasinya, jaringannya atau printernya yg sedang bermasala) sehingga nomor SPK nya akan diberikan kemudian via sms. Karena terlalu berisiko jika saya meninggalkan lensa tanpa nomor SPK, maka saya tunggu no SPK sambil makan siang dulu, dan ketika kembali komputer sudah baik, namun karena SPK nya tadi suda di print dahulu, maka no SPK nya ditulis tangan.
*Wah,harusnya saya pilih via sms saja ya... siapa tau ntar dapet kenalanmodel orang Canon.
Bukan hal besar dan tidak perlu dipermasalakan :)
Karena sebenarnya lensa ini akan segera digunakan pada hari sabtu tgl 17 September, status service nya kupantau terus meskipun dari forum ada yg mengatakan bisa sampai tiga bulan.
Ketika sudah hari selasa dan masih belum ada tanda-tanda perubahan status dari "sedang diperiksa" maka akhirnya saya meminjam lensa 17-55 milik teman saya, karena acara tgl 17 September ini sangat penting.
Hari kamis siang, iseng-iseng saya cek status service via web datascrip dan... Voila ! status perbaikan sudah selesai. dan biayanya hanya Rp 550.000 dan tanpa penggantian spare part. Wow... betapa senangnya !
Untuk mengkonfirmasi, akhirnya saya telepon dan mengatakan akan mengambilnya besok (hari jumat).di Mangga dua, karena jika ingin mengambil di Ratu Plasa, harus menunggu jadwal pengiriman kurir... yaitu tiap hari Selasa.
Hari Jumat... saya datang langsung ke Canon Center di Mangga Dua. Masuk ke dalam langsung mengambil nomor antrian yg sudah dibagi berdasarkan beberapa kategori, dan dipersilahkan menunggu di ruang tunggu.
Ternyata dii sini suasana dan fasilitasnya jauh lebih lengkap. Ada ruang tunggu yg memadai beserta majalah-majalan yg berhubungan dengan fotografi, ,komputer, fashion, lingkungan, dsb. Juga terdapat mesin pembuat kopi dan teh otomatis, dan semuanya free :) So, bagi yg nunggu rasanya ga akan bosan :)
Saya dilayani dengan baik oleh mbak ... (lupa namanya),ditanya maksud kedatangan, memberikan SPK, kemudian melakukan test singkat di depan mbaknya, membayar biaya di kasir dan ... singkat kata lensa kembali ke rumah dengan baik...
Trus gimana acara hari sabtu 17 September? Malam itu saya bingung menentukan mau membawa lensa yang mana (sampai post di FB). Dan Akhirnya, saya memutuskan untuk membawa lensa 17-55 karena tempatnya belum saya ketahui kondisinya (gelap-terangnya ruangan, lebar panggung dst).. Untuk hal yg belum diketahui semacam ini, IS akan sangat membantu, dan semakin lebar akan lebih flexible (barangkali jarak panggung ke tempat tamu terlalu dekat hingga harus memakai FL < 24 ).
Dan ternyata pilihan tersebut salah... ternyata untuk style saya, lensa tele 70-200 akan lebih berguna :D
Namun, memang dengan lensa 17-55 saya tidak perlu khawatir ketika ada keluarga yg minta foto... (jika menggunakan 70-200 biasanya saya harus mundur agak jauh agar orang yg difoto cukup masuk dalam satu frame)
Jika berkenan moon masukannya untuk hasil foto tgl 17 September di FB saya.
Trus rugi dong, 24-70 sudah diservice tidak dipakai ? Ah.. ga lah... besok akan dipakai... :)
Sekalian mau test, semoga sudah sembu total... :)
kesimpulan :
untuk keramahan... puass
kecepatan pengerjaan puass
kenyamanan dan fasilitas tempat sangat puas
Nah... ada satu lagi, ketika menmbayar lensa ini, di kasir kimputernya error lagi, sehingga kasir tidak mengetahui apakah ada sparepart yg diganti... :D
sepertinya sering error ya... Tapi bagi saya bukan masalah.. karena untuk saya sebagai pelanggan yg penting saya bisa tetap bayar (tanpa harus menunggu komputernya beres dulu) untuk kemudian mengambil lensa saya.
demikian pengalaman saya service di datascrip :)
Tapi karena lensa ini lensa mahal (lensa termahalku) sehingga terlalu berisiko jika dikerjakan/dibongkar oleh orang yg belum tentu bisa dipercaya
Tanggal 8 September 2011 saya datang ke Canon Center di Ratu Plasa, selain karena letaknya paling dekat dengan kantor saya, juga pengin melijat Canon Center yg baru dibuka itu.
Letaknya ada di Lantai 1 dekat eskalator turun... di depannya terdapat toko kamera.
Ruangannya bersih, dengan dominan warna putih dan merah khas Canon.
Begitu melangkahkan kaki ke dalam saya disambut oleh mbak-mbak cantik (muka-muka model) yg ramah dan ditanyakan apa yg bisa dibantu. Setelah mengutarakan maksud saya, mbaknya mengatakan akan diperiksa dulu apakah bisa dikerjakan saat itu atau harus dikirim ke Canon Center di Mangga Dua. Kemudia atas informasi dari teknisi di dalam, lensa harus dikirim ke Mangga Dua, dan kebetulan sekali waktu itu kurirnya sedang datang, jadi tidak perlu menunggu lama ... suatu keberuntungan awal :)
Untuk biaya, pertama saya ditanya apakah masih garansi, saya bilang sudah tidak garansi namun tadinya garansi DS. Meski saya bilang sudah tidak garansi, mbaknya meng, mbaknya masih mencoba mengitung (dari kode garansi di kartu garansi) barangkali masih ada masa garansinya (kebetulan di kartu garansi tgl dan cap toko nya kosong). Ini bagi saya merupakan nilai plus. :)
Akhirnya diketahui biaya bongkar-pasang (labour) Rp 500.000 dan ditambah PPN 10%, jadi total biaya service Rp 550.000 belum termasuk sparepart. Jika ada penggantian sparepart, akan dikonfirmasikan dahulu. Sip.
*Sekalian sebagai informasi, untuk biaya bongkar pasang lensa Canon EF 70-200 Rp 700.000 + ppn 10% jadi 770.000 untuk biaya bongkar pasang lensa kit 300.000 + ppn, jadi Rp 330.000 belum termasuk penggantian spare part.
Untuk pengalaman saat memasukkan lensa ini, positif semua, kecuali bagian no SPK yg akhirnya harus ditulis tangan karena komputernya sedang bermasalah (Saya tidak tau dan tidak mencari tahu apakah komputernya, aplikasinya, jaringannya atau printernya yg sedang bermasala) sehingga nomor SPK nya akan diberikan kemudian via sms. Karena terlalu berisiko jika saya meninggalkan lensa tanpa nomor SPK, maka saya tunggu no SPK sambil makan siang dulu, dan ketika kembali komputer sudah baik, namun karena SPK nya tadi suda di print dahulu, maka no SPK nya ditulis tangan.
*Wah,harusnya saya pilih via sms saja ya... siapa tau ntar dapet kenalan
Bukan hal besar dan tidak perlu dipermasalakan :)
Karena sebenarnya lensa ini akan segera digunakan pada hari sabtu tgl 17 September, status service nya kupantau terus meskipun dari forum ada yg mengatakan bisa sampai tiga bulan.
Ketika sudah hari selasa dan masih belum ada tanda-tanda perubahan status dari "sedang diperiksa" maka akhirnya saya meminjam lensa 17-55 milik teman saya, karena acara tgl 17 September ini sangat penting.
Hari kamis siang, iseng-iseng saya cek status service via web datascrip dan... Voila ! status perbaikan sudah selesai. dan biayanya
Untuk mengkonfirmasi, akhirnya saya telepon dan mengatakan akan mengambilnya besok (hari jumat).di Mangga dua, karena jika ingin mengambil di Ratu Plasa, harus menunggu jadwal pengiriman kurir... yaitu tiap hari Selasa.
Hari Jumat... saya datang langsung ke Canon Center di Mangga Dua. Masuk ke dalam langsung mengambil nomor antrian yg sudah dibagi berdasarkan beberapa kategori, dan dipersilahkan menunggu di ruang tunggu.
Ternyata dii sini suasana dan fasilitasnya jauh lebih lengkap. Ada ruang tunggu yg memadai beserta majalah-majalan yg berhubungan dengan fotografi, ,komputer, fashion, lingkungan, dsb. Juga terdapat mesin pembuat kopi dan teh otomatis, dan semuanya free :) So, bagi yg nunggu rasanya ga akan bosan :)
Saya dilayani dengan baik oleh mbak ... (lupa namanya),ditanya maksud kedatangan, memberikan SPK, kemudian melakukan test singkat di depan mbaknya, membayar biaya di kasir dan ... singkat kata lensa kembali ke rumah dengan baik...
Trus gimana acara hari sabtu 17 September? Malam itu saya bingung menentukan mau membawa lensa yang mana (sampai post di FB). Dan Akhirnya, saya memutuskan untuk membawa lensa 17-55 karena tempatnya belum saya ketahui kondisinya (gelap-terangnya ruangan, lebar panggung dst).. Untuk hal yg belum diketahui semacam ini, IS akan sangat membantu, dan semakin lebar akan lebih flexible (barangkali jarak panggung ke tempat tamu terlalu dekat hingga harus memakai FL < 24 ).
Dan ternyata pilihan tersebut salah... ternyata untuk style saya, lensa tele 70-200 akan lebih berguna :D
Namun, memang dengan lensa 17-55 saya tidak perlu khawatir ketika ada keluarga yg minta foto... (jika menggunakan 70-200 biasanya saya harus mundur agak jauh agar orang yg difoto cukup masuk dalam satu frame)
Jika berkenan moon masukannya untuk hasil foto tgl 17 September di FB saya.
Trus rugi dong, 24-70 sudah diservice tidak dipakai ? Ah.. ga lah... besok akan dipakai... :)
Sekalian mau test, semoga sudah sembu total... :)
kesimpulan :
untuk keramahan... puass
kecepatan pengerjaan puass
kenyamanan dan fasilitas tempat sangat puas
Nah... ada satu lagi, ketika menmbayar lensa ini, di kasir kimputernya error lagi, sehingga kasir tidak mengetahui apakah ada sparepart yg diganti... :D
sepertinya sering error ya... Tapi bagi saya bukan masalah.. karena untuk saya sebagai pelanggan yg penting saya bisa tetap bayar (tanpa harus menunggu komputernya beres dulu) untuk kemudian mengambil lensa saya.
demikian pengalaman saya service di datascrip :)
September 14, 2011
my 24-70, cepatlah sembuh dan pulang...
Hari kamis lalu, Lensa Canon EF 24-70 L USM ku akhirnya resmi harus rawat inap karena masalah zoom ring yg stuck. Padahal ini lensa termahalku dan paling banyak kupake, dan rencana mau dibawa ke nikahan saudara ke Bandung, sekalian jalan-jalan ama istri tercinta :p
Karena kantor di Sudirman, dan kalo sempat biar bisa sekalian ketemu istri saya, dan juga sekalian liat Canon Center baru, akhirnya saya pilih Canon Center yg ada di Ratu Plasa lt 1.
Humm.. singkat cerita harus nginep karena harus diperiksa teknisinya di Pusat (di Mangga 2). Maaf belum mood buat cerita banyak sebelum dia kembali ke tangan, dan semoga tanpa tambahan biaya-biaya lain (karena biaya rawat inapnya sendiri sudah mahal ... )
Oh ya, untuk lihat status service bisa ke http://service.datascrip.co.id/ atau telpon atau sms :)
Semoga cepat sembuh :)
lanjuta ceritanya ada di sini
Karena kantor di Sudirman, dan kalo sempat biar bisa sekalian ketemu istri saya, dan juga sekalian liat Canon Center baru, akhirnya saya pilih Canon Center yg ada di Ratu Plasa lt 1.
Humm.. singkat cerita harus nginep karena harus diperiksa teknisinya di Pusat (di Mangga 2). Maaf belum mood buat cerita banyak sebelum dia kembali ke tangan, dan semoga tanpa tambahan biaya-biaya lain (karena biaya rawat inapnya sendiri sudah mahal ... )
Oh ya, untuk lihat status service bisa ke http://service.datascrip.co.id/ atau telpon atau sms :)
Semoga cepat sembuh :)
lanjuta ceritanya ada di sini
July 21, 2010
Flat Photo
Huff ...
Sudah dua orang yg berani mengatakan bahwa foto-foto saya terlalu flat :)
Terimakasih banyak ya buat yg berani mengatakan hal tersebut ... selama ini memang baru belajar teknis (exposure yg benar, rule of third, menggunakan flash dengan benar dst. ) dan belum menyentuh kepada bagaimana break those rules and make stunning images (art ?).
Masih banyak sekali hal teknis yg sedang dipelajari (HMSTTR / ETTR-ITTR), theory of colours, psychology of color dst...
Humm... tp yg terpenting untuk saat ini, aku menikmati saat-saat membuat foto (meski tidak terlalu menikmati proses editing) dan doakan saja agar segera bisa belajar ke arah sana :) <-- denial ?
Terimakasih banyak buat yg sudah berani mengatakan kebenaran itu (kalo gak dikasih tau mungkin aku gak nyadar) ...
Teman terbaik adalah yg berani mengatakan kita salah ketika kita salah :)
Sudah dua orang yg berani mengatakan bahwa foto-foto saya terlalu flat :)
Terimakasih banyak ya buat yg berani mengatakan hal tersebut ... selama ini memang baru belajar teknis (exposure yg benar, rule of third, menggunakan flash dengan benar dst. ) dan belum menyentuh kepada bagaimana break those rules and make stunning images (art ?).
Masih banyak sekali hal teknis yg sedang dipelajari (HMSTTR / ETTR-ITTR), theory of colours, psychology of color dst...
Humm... tp yg terpenting untuk saat ini, aku menikmati saat-saat membuat foto (meski tidak terlalu menikmati proses editing) dan doakan saja agar segera bisa belajar ke arah sana :) <-- denial ?
Terimakasih banyak buat yg sudah berani mengatakan kebenaran itu (kalo gak dikasih tau mungkin aku gak nyadar) ...
Teman terbaik adalah yg berani mengatakan kita salah ketika kita salah :)
May 22, 2010
Not Enough Space ketika import foto di Adobe Lightroom
Ok, ga lama-lama...
Hardisk utamaku sudah lama minim free space, termasuk drive system nya (yg ada windowsnya).
Nah ketika menggunakan lightroom, ternyata hal ini menjadi masalah. Lightroom membutuhkan partisi drive system kita memiliki setidaknya 250MB free space untuk import file raw kamera dan jika spacenya kurang dari 250MB akan memunculkan pesan error yangg memberitahukan bahwa drive system kita butuh minimal 250MB free space.
Sepertinya lightroom membutuhkan space ini untuk meng convert file raw ini menjadi jpeg (mungkin???) untuk di preview di dashboard lightroom.
Dan problemnya, setiap kali lightroom mengimport, dia akan meninggalkan file temporary (.dat) itu di hardisk (berapa lamanya, sepertinya bisa di set) dan agak merepotkan ketika harus mengimport beberapa batch file. Karena tiap kali akan mengimport lagi, aku harus menghapus (Shift+del) file-file yg berada di %system_drive%:\Documents and Settings\%User_name%\Local Settings\Application Data\Adobe\CameraRaw\Cache yg berekstensi .dat (hasil pencarian di folder-folder tersembunyi :D )
Setelah beberapa minggu selalu melakukan hal itu (import, delete dat file, import, dlte dat file lagi) akhirnya merasa terganggu dan memutuskan untuk ...
1. Men setting lightroom agar menggunakan drive lain untuk cache (gagal karena ternyata tidak ada di setting nya dan tidak ada file .ini atau file konfigurasi lain di folder program Lightroom)
2. Menambah besar partisi system (namun akhirnya batal karena untuk mengubah partisi harus diformat ulang semua, karena menurut Partition Magic, ada kesalahan fatal di harddisk ku sehingga tidak bs di partisi langsung - harus diformat dulu )
3. Memindahkan katalog lightroom... dan ini berhasil !! hore :)
so caranya :
1. Copy folder : %system_drive%:\Documents and Settings\%user_name%\My Documents\My Pictures\Lightroom contoh : C:\Documents and Settings\Administrator\My Documents\My Pictures\Lightroom beserta semua isinya ke drive lain yg free spacenya besar ... misal ke E:\Lightroom
2. Buka Lightroom. Pilih Menu File-> Import From Catalog kemudian ketika muncul OpenFile Dialog, arahkan ke tempat baru kita E:\Lightroom klik Open Kemudian tekan OK ketika ada dialog yg muncul.
3. Close Lightroom, Jalankan lagi (restart dan coba import lagi.
Beres.... btw, file .dat tetap masih tercreate di %system_drive%:\Documents and Settings\%user_name%\Local Settings\Application Data\Adobe\CameraRaw\Cache namun masalah import sudah tidak muncul lagi...
Oh ya, pastikan file .dat itu dihapusnya ketika file nya sudah tidak dipake lagi... :)
selamat mencoba... jika ada kesalahan, tanggung jawab masing-masing yah :p
Hardisk utamaku sudah lama minim free space, termasuk drive system nya (yg ada windowsnya).
Nah ketika menggunakan lightroom, ternyata hal ini menjadi masalah. Lightroom membutuhkan partisi drive system kita memiliki setidaknya 250MB free space untuk import file raw kamera dan jika spacenya kurang dari 250MB akan memunculkan pesan error yangg memberitahukan bahwa drive system kita butuh minimal 250MB free space.
Sepertinya lightroom membutuhkan space ini untuk meng convert file raw ini menjadi jpeg (mungkin???) untuk di preview di dashboard lightroom.
Dan problemnya, setiap kali lightroom mengimport, dia akan meninggalkan file temporary (.dat) itu di hardisk (berapa lamanya, sepertinya bisa di set) dan agak merepotkan ketika harus mengimport beberapa batch file. Karena tiap kali akan mengimport lagi, aku harus menghapus (Shift+del) file-file yg berada di %system_drive%:\Documents and Settings\%User_name%\Local Settings\Application Data\Adobe\CameraRaw\Cache yg berekstensi .dat (hasil pencarian di folder-folder tersembunyi :D )
Setelah beberapa minggu selalu melakukan hal itu (import, delete dat file, import, dlte dat file lagi) akhirnya merasa terganggu dan memutuskan untuk ...
1. Men setting lightroom agar menggunakan drive lain untuk cache (gagal karena ternyata tidak ada di setting nya dan tidak ada file .ini atau file konfigurasi lain di folder program Lightroom)
2. Menambah besar partisi system (namun akhirnya batal karena untuk mengubah partisi harus diformat ulang semua, karena menurut Partition Magic, ada kesalahan fatal di harddisk ku sehingga tidak bs di partisi langsung - harus diformat dulu )
3. Memindahkan katalog lightroom... dan ini berhasil !! hore :)
so caranya :
1. Copy folder : %system_drive%:\Documents and Settings\%user_name%\My Documents\My Pictures\Lightroom contoh : C:\Documents and Settings\Administrator\My Documents\My Pictures\Lightroom beserta semua isinya ke drive lain yg free spacenya besar ... misal ke E:\Lightroom
2. Buka Lightroom. Pilih Menu File-> Import From Catalog kemudian ketika muncul OpenFile Dialog, arahkan ke tempat baru kita E:\Lightroom klik Open Kemudian tekan OK ketika ada dialog yg muncul.
3. Close Lightroom, Jalankan lagi (restart dan coba import lagi.
Beres.... btw, file .dat tetap masih tercreate di %system_drive%:\Documents and Settings\%user_name%\Local Settings\Application Data\Adobe\CameraRaw\Cache namun masalah import sudah tidak muncul lagi...
Oh ya, pastikan file .dat itu dihapusnya ketika file nya sudah tidak dipake lagi... :)
selamat mencoba... jika ada kesalahan, tanggung jawab masing-masing yah :p
April 25, 2010
Setahun sudah, apa yg berubah ?
Wuih, ga terasa udah lama bgt (setahun lebih dikit) blog ini kuinggalkan.
Posting terakhir tgl 12 April 2009, waktu itu post tentang pembelian 450D ku...
Hahaha, jadi inget...
So, setelah satu tahun, apa saja yg berubah ?
yg pasti nambah beberapa lensa, nambah flash, nambah memory card, nambah tas, dan kemarin nambah harddisk external. Skill ? Sampai sekarang masih kesulitan untuk menggunakan flash... dan tangan masih tidak steady ... di focal length 200mm degnan shutter speed > 1/25 s biasanya foto sudah goyang-goyang. Intinya masih kesulitan terhadap indoor & low-light meski kadang2 hasilnya masih bisa diterima orang umum...
So... mari kita belajar lebih giat lagi !
Sudah setahun punya kamera, dan tahun depan penginnya sudah bisa punya studio mini di rumah (moga2 pembangunannya lancar) dan sudah menerima orderan foto tiap minggu... :P
Hasil foto setahun ini ?
Ehm.. belum banyak, mungkin cuma di deviant art dan di flickr
Posting terakhir tgl 12 April 2009, waktu itu post tentang pembelian 450D ku...
Hahaha, jadi inget...
So, setelah satu tahun, apa saja yg berubah ?
yg pasti nambah beberapa lensa, nambah flash, nambah memory card, nambah tas, dan kemarin nambah harddisk external. Skill ? Sampai sekarang masih kesulitan untuk menggunakan flash... dan tangan masih tidak steady ... di focal length 200mm degnan shutter speed > 1/25 s biasanya foto sudah goyang-goyang. Intinya masih kesulitan terhadap indoor & low-light meski kadang2 hasilnya masih bisa diterima orang umum...
So... mari kita belajar lebih giat lagi !
Sudah setahun punya kamera, dan tahun depan penginnya sudah bisa punya studio mini di rumah (moga2 pembangunannya lancar) dan sudah menerima orderan foto tiap minggu... :P
Hasil foto setahun ini ?
Ehm.. belum banyak, mungkin cuma di deviant art dan di flickr
April 12, 2009
EOS 450D, akhirnya...
Akhirnya... setelah beberapa belas bulan mencoba bertahan untuk menjauh dari dunia foto-fotoan, Sabtu kemarin pertahanan ini jebol juga.
Akhirnya beli deh Canon EOS 450D + lensa Canon 50mm f/1.8 II + Hoya Filter + Batre cadangan + SDHC Ultra II 4GB :)
Duuh... abis deh uang bonus (bukan hanya habis, malah tekor!) :(
Tp gpp lah... sekali-kali beli barang mahal...
abis ini paling cuma tinggal beli lensa 70-200mm nya (nah kan... kalo udah masuk ke dunia foto-fotoan ini emang bahaya sekali... selalu pengin yg labih baik terus.. T__T )
Dan berikut hasil foto dari EOS 450D nya. Kalo masih jelek mohon maaf, maklom, belum bisa menggunakan kamera DSLR :)
foto pertama dari EOS 450Dku...

Dan bangun tidur tadi, langsung pengin nyoba lagi... hehehe... objeknya kok itu terus yak ? Gak punya barang bagus lain siih... :p

Nah.. sekarang malah bingung, mau memfoto apa ya ? Kamera udah ada tp objeknya gak ada :D
Akhirnya beli deh Canon EOS 450D + lensa Canon 50mm f/1.8 II + Hoya Filter + Batre cadangan + SDHC Ultra II 4GB :)
Duuh... abis deh uang bonus (bukan hanya habis, malah tekor!) :(
Tp gpp lah... sekali-kali beli barang mahal...
abis ini paling cuma tinggal beli lensa 70-200mm nya (nah kan... kalo udah masuk ke dunia foto-fotoan ini emang bahaya sekali... selalu pengin yg labih baik terus.. T__T )
Dan berikut hasil foto dari EOS 450D nya. Kalo masih jelek mohon maaf, maklom, belum bisa menggunakan kamera DSLR :)
foto pertama dari EOS 450Dku...

Dan bangun tidur tadi, langsung pengin nyoba lagi... hehehe... objeknya kok itu terus yak ? Gak punya barang bagus lain siih... :p

Nah.. sekarang malah bingung, mau memfoto apa ya ? Kamera udah ada tp objeknya gak ada :D
September 8, 2008
Danau Dariza Cipanas, Garut (bagian 2)
OK kelanjutan cerita dari postingan sebelumnya nih...
Untuk ke Danau Dariza, kami harus naik angkot berwarna coklat polos... (tampaknya angkot coklat polos ini satu2nya angkot yang lewat daerah situ.. so sangat mudah menemukannya).
Biaya per orang adalah Rp 3000 (angkot di daerah Jawa Barat kok mahal yak), Kalo ingin petualangan lebih, sebenarnya bisa juga jalan kaki, hanya sekitar 3-4 km kok, tapi jalannya menanjak :)
Sampai di depan Danau Dariza, kami disambut oleh beberapa bangunan yang sedang dibangun... tampaknya Danau Dariza ini masih baru, dan sedang mengadakan expansi...
Karena Check in dihitung mulai jam 12.00, dan ketika sampai sana masih sekitar jam 11, salah satu kamar yang kami book masih ada penghuninya... so kami baru dapat satu kamar dulu... gpp lah.. yang penting tas ini bisa ditaruh di tempat yang aman...
Acara selanjutnya adalah.... Makaaaaaan... udah laper bangeeeet... so kami menelpon teman kami yang orang garut, yang pernah ke Danau Dariza (Mas Firsen) dan mendapat petunjuk bahwa ada tempat makan yang enak di pertigaan Cipanas, namanya Sumber Rasa.
Segera kami mencari angkot untuk menuju ke Rumah makan tersebut... tapi setelah sampai di pertigaan Cipanas), kok gak keliatan tanda-tanda 'Sumber Rasa' yak...
Setelah tanya ke SUpor Angkotnya, ternyata Sumber Rasa tidak dilewati angkot kami.. so kalo mau ke Sumber Rasa harus berhenti di pertigaan Cipanas, kemudian jalan sekitar 100M ke arah Bandung (dari arah Danau dariza, belok ke kiri).
Karena dah kepalang tanggung, kami minta supir Angkot mengantarkan kami ke warung makan daerah situ yang enak, dan diantarkanlah ke warung makan 'Dua Saudara'.
Makanannya lengkap.. dan walaupun warungnya lumayan kecil, tapi yang makan di situ rame banget... padahal rasa makanannya biasa aja :p
Setelah makan, kami kemudian mencari supermarket untuk belanja snack... kali ini kami bertemu dengan Supermarket 'Aladin' (Akhirnya bukan Indomaret seperti di perjalanan-perjalanan sebelumnya :p). Di depan Supermarket ini juga ada ATM BNI dan ATM Bank Lain (he he he.. yang di promosiin Bank ku aja yak :p )
Setelah merasa cukup belanja, kami kembali ke Danau Dariza, dengan tujuan untuk menjelajah daerah sekitar Danau :)
Penjelajahan dimulai dengan penjelajahan darat... kami menemukan beberapa taman yang kuyakini akan sangat romantis jika berdua dengan kekasih kita di situ pada malam hari... apalagi dengan penerangan obor dan pemandangan danau... wuiiih...
Setelah penjelajahan darat.. kami mulai mencoba penjelajahan air... Ternyata penjelajahan air ini lebih seru (apalagi seperahu ama si cewek), aku yang biasanya takut air saja jadi gak takut ( soalnya airnya sudah kuukur dan dalamnya hanya sekitar 1 M - so kalo jatuh dari perahu masih aman deh.. Makloom.. gak bisa berenang :D )
Selain rumah Minang, ada bentuk rumah Batak dan rumah Sunda, juga yang sedang dibangun, ada rumah ehm.... rumah adat mana yak, pernah liat bentuknya waktu SD dulu, tapi udah lupa nama dan asal daerahnya :D
Di danau, kami bepapasan dengan penghuni dari rumah-rumah lain, saling menyapa, saling tabrakan perahu (lho?)... seru banget... (sayang gak ada penumpang perahu yang bening.. :p )
Setelah puas mendayung, beberapa dari kami ingin mencoba pemandian air panas... dan beberapa ingin jalan-jalan di daerah sekitar Danau Dariza ( di kawasan situ, terdapat banyak resort yang OK juga)...
Di depan Danau Dariza ada resort yang lebih besar (namanya Sumber Alam) dan di situ ada permainan air - semacam waterboom mini yang cukup lengkap, ada tempat untuk melakukan outbound-meskipun agak kecil. Cukup menarik untuk liburan keluarga, terutama untuk anak-anak, karenanya tidak mengherankan jika melihat plat nomor mobil-mobil yang berserakan di parkiran... mobil dengan plat nomor A (Banten) B (Jakarta) ataupun F(Bogor) memenuhi parkiran...
Pulang dari jalan-jalan.. hari sudah menjelang malam... Hawa dingin pegununganpun mulai menembus kulit dan menusuk tulang kami...
Kami segera mandi air hangat dan berganti pakaian hangat...
Ketika melihat ke bawah (kamar kami di atas) ternyata perahu kami hilang satu buah... wew... lalu kamipun merencanakan aksi intelijen untuk mencari posisi perahu kami, dan kami bahkan merencanakan rencana untuk memindahkan semua perahu yang ada di danau, ke depan rumah kami. Rencananya, jam 4 pagi, kami semua bergerak untuk mengumpulkan perahu-perahu yang berserakan di depan rumah penghuni lain ke rumah kami (bahasa kasarnya : nyolong perahu ) Kayaknya seru banget tuh... pasti besok pagi, penghuni lain pada heboh :D :D
Setelah rencana matang, kami sejenak melupakan rencana itu dan menikmati kegiatan foto-foto... Ternyata asyik juga... beberapa foto yang kami ambil cukup baik (asal jangan menggunakan mode automatic)... sayangnya.. aku gak bawa tripod, so untuk mencegah shake aku hanya mengandalkan tangan.. dan hasilnya ya gitu deeeh....
--- bersambung --- next : makan di Sumber Alam
Foto pertama diambil oleh Mas Firsen, menggunakan Olympus E500.
tiga foto di atas kuambil menggunakan kamera poket Canon PowerShot A590 IS (thanks to mas Ariza yang udah ngasih tahu jenis kamera yg kupake) punyaan temen...
waktu diliat di LCDnya sih bagus benget.. tapi kok di sini jadi gak jelas ya.. padahal di LCDnya, foto danau Dariza waktu malam keliatan bagus banget lho.. rumah2 di belakang keliatan jelas....
Kayaknya harus di photoshop dulu deh... biar lebih bagus...
Ntar deh, kalo ada waktu ku Photoshop dulu :)
June 16, 2008
Foto ku hilang ?
Hiks...
Foto Curug Nangka ama foto Kota Tua di waktu malamku sepertinya hilang...
Hari sabtu aku cuciin ke tempat tukang afdruk foto di deket kosan, dia janji jam 17.00 sudah selesai.
Karena hujan, aku baru ke tempat afdruk foto tsb jam 19.30 namun ternyata beliau bilang : Wah Mas... negative nya mas kok gak ada ya ? Padahal yang lain (yang masukin hari sabtu itu juga) sudah sampai...
Trus ditelponin ke tempat pencucian besar nya ( ternyata si tukang cuci yang deket kosanku menyerahkan negative ku untuk dicuci oleh tukang cuci yang lain T__T ). Dan anehnya, si pemilik tukang cuci besar bilang bahwa udah diserahin semua... So kecurigaan beralih ke pengantar negative nya (hiks... ribet yak)
Masalahnya.. ternyata si pengantar ini gak punya Handphone dan udah balik...
Setelah kupaksa-paksa, akhirnya si tukang cuci kecil menelpon si tukang cuci besar dan berjanji besok pagi (minggu pagi) akan ke tukang cuci besar tuk ngambilin.. trus aku diminta datang jam 10.00 pagi tuk ngambil negativeku.
Eh.. ternyata... ketika aku sampai ke tukang cuci kecil, diberitahukan bahwa si tukang cuci besar tutup, so berarti si pengantar negative jadi gak masuk.. jadinya...
Hiks.........................
Apakah fotoku sebegitu bagusnya yak ( PeDe mode ON ), sampai ada yang tertarik untuk mengambil fotoku...
T_____________T
Jadi makin kepikiran tuk pindah ke Digital....
June 12, 2008
Curug Nangka 07-06-08 (bagian 2 - habis)
Duuuuh... maaf banget baru bisa ngelanjutin ceritanya...
kerjaan lagi banyak banget niii... so mohon maaf jika nanti review nya tidak sedetail seharusnya... (udah banyak yang lupa)
Kami memasuki gerbang Curug Nangka dengan suka cita, rasanya seperti kembali ke 'keadaan yang seharusnya'. Rasa ketika kita kembali ke alam, jauh darikebisingan kota, memang sangat menentramkan.
Kuhirup dalam-dalam udara bersih untuk membersihkan paru-paruku... dan.. rasanya memang beda... Udara memang nikmat sekali jika kita menghirupnya dalam-dalam dan sambil menikmatinya, membayangkan kita mengikuti udara masuk ke pipa-pipa menuju paru-paru dan kemudian keluar lagi (jarang sekali kita menyadari bahwa menghirup udara adalah suatu kenikmatan )
Setelah memarkirkan motor kami di depan sebuah warung makan, Petualangan mencari Curug Nangka pun kami mulai.
Dimulai dengan menyeberagi jembatan kecil, sampailah kami ke daerah kawasan wisatanya.
Di sebelah kiri kami lihat hamparan pohon pinus (kalo gak salah identifikasi) yang terlihat sangat terawat. di sebelah kanan, kami melihat penginapan/vila dan tanah lapang yang cukup luas yang disediakan untuk pengunjung yang ingin camping. Sedangkan di depan kami, kami lihat terdapat mushola dan tempat beristirahat.
Tidak beberapa lama kemudian, kami bertemu dengan seorang pemandu wisata yang umurnya sudah setengah Baya (mohon maaf lupa menanyakan nama beliau) yang kemudian menemani kami menuju curug-curug yang ada. Bapak ini dengan ramah mengantarkan kami ke curug, satu demi satu, dan bahkan menunggui kami ketika kami asyik membidik objek foto. Saya sangat menyesal karena pada saat itu, beberapa teman kami menganggap Bapak ini pasti mau minta uang sehingga kami kurang ramah terhadap beliau, bahkan mengabaikannya ketika beliau berbicara... Sungguh suatu sikap yang sangat buruk.. karene ternyata hingga akhirnya kami pulang, bapak initidak meminta bayaran sedikitpun...
Jumlah curug di kawasan wisata Crug Nangka ini menurut Bapak ini ada lima buah, dan yang paling dekat adalah curug Nangka.
Untuk melihat curug Nangka ini, kita harus turun ke jalur kanan bawah dari jalur utama. Dari jalur kanan bawah ini, untuk melihat curug Nangka bisa dicapai dengan dua cara. Cara pertama adalah jalur (meminjam istilah Bapak pemandu) pendekatan dengan air (mengikuti sungai menuju curug, main basah-basahan) dan yang kedua adalah pendekatan dari atas (tanpa membasahi diri).
Jika ingin petualangan yang lebih seru, kami sarankan untuk melakukan pendekatan air. Karena kami lebih berniat untuk memfoto curug, dan membawa kamera yang takut basah, maka kami mengambil pendekatan atas, karena dari pendekatan atas ini, curug nangka bisa difoto hampir keseluruhannya tanpa perlu lensa khusus panorama, dan lagi lebih tidak beresiko :)
Namun jangan khawatir, bagi yang sudah terlanjur mengikuti jalur atas, jika kemudian berubah pikiran dan ingin bermain dengan air juga bisa kok, tinggal turun saja, ada jalan setapak (benar-benar setapak-se telapak kaki) yang curam dan licin (harap sangat berhati-hati ya..)
Curug Nangka sendiri sebenarnya cukup bagus, sayangnya arus airnya kurang deras... mungkin karena kurang tinggi, atau memang debit airnya yang kecil sehingga bagiku curug Nangka terlihat seperti 'curug-curugan'.
Setelah puas dengan Curug Nangka, kami melanjutkan perjalanan menuju ke Curug Daun.
Untuk mencapainya, dari tempat Curug Nangka, kami harus naik terlebih dahulu, dan menyusuri pinggiran sungai ari daratan(tidak bisa langsung mengikuti arus air melalui sungai).
Jadi kami naik terlebih dahulu ke atas (melalui jalan setapak dan kemudian mengikuti kelok-kelok sungai dari daratan pinggiran sungai dengan dipandu oleh Bapak Pemandu.
Tampak sekali bahwa Bapak Pemandu ini sangat mengenal 'daerah kekuasaannya' karena sangat hapal batu-batu mana yang harus diinjak, dimana harus melangkah dengan kaki kanan dan dimana harus menggunakan kaki kiri.
Tidak beberapa lama kemudian, sampailah kami ke Curug Daun, ketinggian curug daun mungkin hanya sekitar 6 meter, sehingga menurutku belum pantas disebut curug :p dan mungkin karena itulah banyak orang yang datang ke sini mengatakan hanya melihat 2 curug, karena Curug Daun yang mereka lewati ini tidak dianggap sebagai curug...
Curug ini, kata Bapak Pemandu, biasanya digunakan untuk mandi oleh kaum hawa... dan memang waktu kami sampai ke sana ada dua orang kaum hawa yang sedang duduk-duduk di bebatuan di bawah curug sambil main air dengan kedua kakinya (mungkin sudah mandi atau malah baru akan mandi) dan yang satu (yang berbaju ungu) lumayan manis :p
Air di curug ini sangat jernih dan segar, sehingga membangkitkan keinginan untuk mandi atau menceburkan diri ke air... sayangnya, kami tidak persiapan untuk mandi, sehingga tidak membawa baju ganti... Nah, bagi pembaca yang akan ke Curug Nangka, kusarankan untuk membawa baju ganti... Rugi deh kalo gak mandi di sini... :)
Setelah beberapa kali mengambil foto, kami melanjutkan perjalanan ke Curug Kawung. Perjalanan dilakukan dengan mengikuti arus sungai dan terkadang mengikuti arus sungai langsung di sungai itu sendiri. Perjalanan ke Curug Kawung agak sedikit menantang... dan di sepanjang perjalanan kita akan disuguhi pemandangan alam yang begitu menarik, bebatuan di sebelah kiri yang meneteskan air terlihat sangat cantik...
Beberapa saat kemudian, setelah perjalanan naik-turun di jalanan yang licin, sampailah kami di Curug Kawung... wuiiiih... kami cukup terkejut... karena tampaknya Curug Kawung ini adalah curug yang tertinggi di daerah ini. Curugnya sendiri sangat indah... bagian atasnya kecil dan makin membesar ke arah bawah. Nah di bagian bawah curug tsb, kita akan menemukan sebuah batu besar yang setiap detiknya dihajar oleh curahan air terjun yang menurut Bapak penjaga di situ dahulunya berbentuk Kepala Harimau (menurutku, batu ini sekarang berbentuk lebih seperti kepala tikus) yang merupakan lambang kebesaran kerajaan Pasundan.
Di curug ini, kamu juga bisa mandi di bawah air curug, karena meskipun curugnya tinggi, debit airnya tidak begitu banyak, sehingga masih bisa digunakan untuk 'mandi shower' :)
Di sini kamu juga bakalan menemukan satwa monyet... ada banyak satwa monyet di sini dan monyetnya sangat usil, so bagi yang membawa makanan... atau yang membawa bungkusan harap berhati-hati, karena pada saat kami di sana, kami melihat sendiri ada seekor monyet yang mengambil bungkusan milik salah satu pengunjung dan dibawanya ke dalam hutan... (Bayangkan kalo isinya HP Nokia E90.. kebayang deh berapa duit tuh...)
Di curug Kawung ini, kami memuaskan keinginan untuk memfoto kami... cukup banyak film yang kuhabiskan di sini, karena menurutku justru di curug Kawung inilah yang paling indah. Nanti kalo fotonya sudah ku scan, kutunjukin deh...
Dan berakhirlah perjalanan kami mencari curug (sebenarnya masih ada dua curug lagi di atas)... Namun karena sudah kelaparan (dari pagi belum sempat sarapan), hari juga sudah agak siang dan sudah mulai ramai pengunjung, dan (yang paling penting) karena film di kameraku tinggal 2 buah, kami memutuskan untuk tidak melanjutkan mencari dua curug di atasnya...
Oh iya, sebelum kembali ke Jakarta, kami memutuskan untuk 'wisata kuliner' di kota Bogor... dan kemudian menyempatkan diri mampir untuk membeli Roti Unyil khas Bogor di dekat teminal Baranangsiang.
Demikianlah kunjungan kami ke Curug Nangka.. jika ada waktu lagi, pengin banget rasanya camping di Curug Nangka ini... :)
see you at my next-trip's report
kerjaan lagi banyak banget niii... so mohon maaf jika nanti review nya tidak sedetail seharusnya... (udah banyak yang lupa)
Kami memasuki gerbang Curug Nangka dengan suka cita, rasanya seperti kembali ke 'keadaan yang seharusnya'. Rasa ketika kita kembali ke alam, jauh darikebisingan kota, memang sangat menentramkan.
Kuhirup dalam-dalam udara bersih untuk membersihkan paru-paruku... dan.. rasanya memang beda... Udara memang nikmat sekali jika kita menghirupnya dalam-dalam dan sambil menikmatinya, membayangkan kita mengikuti udara masuk ke pipa-pipa menuju paru-paru dan kemudian keluar lagi (jarang sekali kita menyadari bahwa menghirup udara adalah suatu kenikmatan )
Setelah memarkirkan motor kami di depan sebuah warung makan, Petualangan mencari Curug Nangka pun kami mulai.
Dimulai dengan menyeberagi jembatan kecil, sampailah kami ke daerah kawasan wisatanya.
Di sebelah kiri kami lihat hamparan pohon pinus (kalo gak salah identifikasi) yang terlihat sangat terawat. di sebelah kanan, kami melihat penginapan/vila dan tanah lapang yang cukup luas yang disediakan untuk pengunjung yang ingin camping. Sedangkan di depan kami, kami lihat terdapat mushola dan tempat beristirahat.
Tidak beberapa lama kemudian, kami bertemu dengan seorang pemandu wisata yang umurnya sudah setengah Baya (mohon maaf lupa menanyakan nama beliau) yang kemudian menemani kami menuju curug-curug yang ada. Bapak ini dengan ramah mengantarkan kami ke curug, satu demi satu, dan bahkan menunggui kami ketika kami asyik membidik objek foto. Saya sangat menyesal karena pada saat itu, beberapa teman kami menganggap Bapak ini pasti mau minta uang sehingga kami kurang ramah terhadap beliau, bahkan mengabaikannya ketika beliau berbicara... Sungguh suatu sikap yang sangat buruk.. karene ternyata hingga akhirnya kami pulang, bapak initidak meminta bayaran sedikitpun...
Jumlah curug di kawasan wisata Crug Nangka ini menurut Bapak ini ada lima buah, dan yang paling dekat adalah curug Nangka.
Untuk melihat curug Nangka ini, kita harus turun ke jalur kanan bawah dari jalur utama. Dari jalur kanan bawah ini, untuk melihat curug Nangka bisa dicapai dengan dua cara. Cara pertama adalah jalur (meminjam istilah Bapak pemandu) pendekatan dengan air (mengikuti sungai menuju curug, main basah-basahan) dan yang kedua adalah pendekatan dari atas (tanpa membasahi diri).
Jika ingin petualangan yang lebih seru, kami sarankan untuk melakukan pendekatan air. Karena kami lebih berniat untuk memfoto curug, dan membawa kamera yang takut basah, maka kami mengambil pendekatan atas, karena dari pendekatan atas ini, curug nangka bisa difoto hampir keseluruhannya tanpa perlu lensa khusus panorama, dan lagi lebih tidak beresiko :)
Namun jangan khawatir, bagi yang sudah terlanjur mengikuti jalur atas, jika kemudian berubah pikiran dan ingin bermain dengan air juga bisa kok, tinggal turun saja, ada jalan setapak (benar-benar setapak-se telapak kaki) yang curam dan licin (harap sangat berhati-hati ya..)
Curug Nangka sendiri sebenarnya cukup bagus, sayangnya arus airnya kurang deras... mungkin karena kurang tinggi, atau memang debit airnya yang kecil sehingga bagiku curug Nangka terlihat seperti 'curug-curugan'.
Setelah puas dengan Curug Nangka, kami melanjutkan perjalanan menuju ke Curug Daun.
Untuk mencapainya, dari tempat Curug Nangka, kami harus naik terlebih dahulu, dan menyusuri pinggiran sungai ari daratan(tidak bisa langsung mengikuti arus air melalui sungai).
Jadi kami naik terlebih dahulu ke atas (melalui jalan setapak dan kemudian mengikuti kelok-kelok sungai dari daratan pinggiran sungai dengan dipandu oleh Bapak Pemandu.
Tampak sekali bahwa Bapak Pemandu ini sangat mengenal 'daerah kekuasaannya' karena sangat hapal batu-batu mana yang harus diinjak, dimana harus melangkah dengan kaki kanan dan dimana harus menggunakan kaki kiri.
Tidak beberapa lama kemudian, sampailah kami ke Curug Daun, ketinggian curug daun mungkin hanya sekitar 6 meter, sehingga menurutku belum pantas disebut curug :p dan mungkin karena itulah banyak orang yang datang ke sini mengatakan hanya melihat 2 curug, karena Curug Daun yang mereka lewati ini tidak dianggap sebagai curug...
Curug ini, kata Bapak Pemandu, biasanya digunakan untuk mandi oleh kaum hawa... dan memang waktu kami sampai ke sana ada dua orang kaum hawa yang sedang duduk-duduk di bebatuan di bawah curug sambil main air dengan kedua kakinya (mungkin sudah mandi atau malah baru akan mandi) dan yang satu (yang berbaju ungu) lumayan manis :p
Air di curug ini sangat jernih dan segar, sehingga membangkitkan keinginan untuk mandi atau menceburkan diri ke air... sayangnya, kami tidak persiapan untuk mandi, sehingga tidak membawa baju ganti... Nah, bagi pembaca yang akan ke Curug Nangka, kusarankan untuk membawa baju ganti... Rugi deh kalo gak mandi di sini... :)
Setelah beberapa kali mengambil foto, kami melanjutkan perjalanan ke Curug Kawung. Perjalanan dilakukan dengan mengikuti arus sungai dan terkadang mengikuti arus sungai langsung di sungai itu sendiri. Perjalanan ke Curug Kawung agak sedikit menantang... dan di sepanjang perjalanan kita akan disuguhi pemandangan alam yang begitu menarik, bebatuan di sebelah kiri yang meneteskan air terlihat sangat cantik...
Beberapa saat kemudian, setelah perjalanan naik-turun di jalanan yang licin, sampailah kami di Curug Kawung... wuiiiih... kami cukup terkejut... karena tampaknya Curug Kawung ini adalah curug yang tertinggi di daerah ini. Curugnya sendiri sangat indah... bagian atasnya kecil dan makin membesar ke arah bawah. Nah di bagian bawah curug tsb, kita akan menemukan sebuah batu besar yang setiap detiknya dihajar oleh curahan air terjun yang menurut Bapak penjaga di situ dahulunya berbentuk Kepala Harimau (menurutku, batu ini sekarang berbentuk lebih seperti kepala tikus) yang merupakan lambang kebesaran kerajaan Pasundan.
Di curug ini, kamu juga bisa mandi di bawah air curug, karena meskipun curugnya tinggi, debit airnya tidak begitu banyak, sehingga masih bisa digunakan untuk 'mandi shower' :)
Di sini kamu juga bakalan menemukan satwa monyet... ada banyak satwa monyet di sini dan monyetnya sangat usil, so bagi yang membawa makanan... atau yang membawa bungkusan harap berhati-hati, karena pada saat kami di sana, kami melihat sendiri ada seekor monyet yang mengambil bungkusan milik salah satu pengunjung dan dibawanya ke dalam hutan... (Bayangkan kalo isinya HP Nokia E90.. kebayang deh berapa duit tuh...)
Di curug Kawung ini, kami memuaskan keinginan untuk memfoto kami... cukup banyak film yang kuhabiskan di sini, karena menurutku justru di curug Kawung inilah yang paling indah. Nanti kalo fotonya sudah ku scan, kutunjukin deh...
Dan berakhirlah perjalanan kami mencari curug (sebenarnya masih ada dua curug lagi di atas)... Namun karena sudah kelaparan (dari pagi belum sempat sarapan), hari juga sudah agak siang dan sudah mulai ramai pengunjung, dan (yang paling penting) karena film di kameraku tinggal 2 buah, kami memutuskan untuk tidak melanjutkan mencari dua curug di atasnya...
Oh iya, sebelum kembali ke Jakarta, kami memutuskan untuk 'wisata kuliner' di kota Bogor... dan kemudian menyempatkan diri mampir untuk membeli Roti Unyil khas Bogor di dekat teminal Baranangsiang.
Demikianlah kunjungan kami ke Curug Nangka.. jika ada waktu lagi, pengin banget rasanya camping di Curug Nangka ini... :)
see you at my next-trip's report
June 9, 2008
Curug Nangka 07-06-08 (bagian 1)
Akhirnya, hari sabtu kemarin (07/06/08) Aku jadi ke Curug Nangka bersama dengan Yani, Henry, Anto, dan Novel menggunakan 3 buah sepeda motor (Jupiter MZ, JupiterZ, dan aku menggunakan Minervaku, Kaze R merah).
Perjalanan yang rencananya berangkat jam 05.30 dari Jakarta sempat molor hingga beberapa jam karena ban motor teman kami bocor. Akhirnya kami baru berangkat dari Cawang-UKI sekitar jam 07.45.
Perjalanan dimulai dengan mengarahkan motor kami ke arah Bogor, melalui Pasar Kramat Jati. Perjalanan ke Bogor ini kami jalani dengan sangat pelan (rata-rata 50 Km/jam) karena kemacetan di mana-mana. Kalo berangkat dari Jakarta sudah kesiangan, ya emang gitu deh... maceeeet T__T
Dan seperti biasa, di antara kami berlima, tidak ada satupun yang tahu jalan ke arah Curug Nangka (kebiasaan nih... jalan cuma tahu tujuan, dan kemudian mengandalkan 'ntar nanya aja ama orang'), untungnya kami (aku dan Yani) sudah mengetahui bahwa kira-kira letak Curug Nangka itu di daerah Bogor, dan untungnya juga aku sudah beberapa kali naik motor melewati Bogor, termasuk ketika ke Ujung Genteng beberapa waktu yang lalu. (Heran juga sih, kok yang lain pada mau ikutan yak, padahal aku sendiri waktu ngajakin udah bilang bahwa aku gak tau tempatnya secara pasti, hanya tau 'di arah ke Puncak', dan hal ini pin tidak sepenuhnya betul, karena Curug Nangka berada di Ciapus, bukan di daerah Puncak :D :D )
Untuk ke Curug Nangka ini, dari Jakarta Kami melalui Cimanggis, sedikit menyentuh Depok, kemudian Cibinong, dan akhirnya Kota Bogor.
Setelah melewati Terminal Baranangsiang (terminal ini berada di kanan jalan, dan mungkin kamu tidak akan melihatnya jika tidak memperhatikan) menuju ke arah puncak, kamu akan menemui jalanan yang mirip dengan jalan Dago di Bandung (banyak Factory Outlet) dan kemudian akan bertemu dengan pertigaan yang ada lampu merah dan bunderannya, dan di situ ada petunjuk jalan bahwa untuk ke Ciapus kami harus memutar di bunderan, ke arah kanan. Nah jalan inilah yang kita ikuti, menuju ke arah Ciapus.
Jalan menuju ke Ciapus ini aspalnya cukup baik, dan jalannya cukup sejuk karena di kanan-kiri jalan masih banyak pepohonan. Kami juga melewati beberapa peninggalan sejarah, salah satunya adalah istana batutuilis, namun kami tidak menyempatkan diri untuk mampir karena tujuan utama kami belum tercapai dan belum tau masih sejauh apakah kami dari tujuan ?
Dalam perjalanan, nanti kamu bakalan menemui sekolah, kemudian ketika bertemu dengan lampu merah pertigaan Pasar kamu ambil jalan yang lurus aja,jangan ke kanan, soalnya kalo ke kanan berarti kembali ke kota Bogor.
Pokoknya jalan ke arah Ciapus itu luruuuuuuus terus... baru nanti ketika ada pertigaan jalur Angkot no 3 (jurusan Ciapus), baru kamu ambil jalan yang ke kiri (jalannya agak naik, dan di situ banyak angkot yang mangkal.. so gampang diketahui).
Nah.. jalan inilah yang kondisi jalannya agak jelek... beberapa bagian jalan ada yang rusak, namun tidak parah kok.. masih jauh lebih parah jalan ke Ujung Genteng, dan hanya sekitar 2 kilometer yang jalannya jelek.
Kamu akan menemui Pusat pelatihan kelautan (atau perikanan ya?), trus juga menemui sebuah gang yang namanya unik, Gang Bebas :D
Kemudian setelah jalan yang jelek ini, nanti akan ditemui lagi jalanan yang mulus, berkelok-kelok, dan naik turun (seru bangeeeeet !) dan setelah berkendara beberapa menit, kamu akan menemui papan penunjuk jalan ke arah Curug Nangka di suatu pertigaan. Kamu ambil jalan ke kiri, dan jalan ini agak jelek juga... tapi tenang... cuma sebentar kok... udah hampir nyampe :) (Kalo dihitung, kira-kira jarak ke Curug Nangka ini adalah sekitar 20Km dari Kota Bogor)
Oh ya, sebelumnya kamu juga bakalan ketemu ama Indomaret di sebelah kiri jalan, so bagi yang gak bawa bekal, bisa beli di Indomaret ini (Aku sempat heran, kok Indomaret selalu ada di dekat tempat wisata yak? -- dulu waktu ke Ujung Genteng juga ada Indomaret)
Akhirnya, setelah melewati jalanan yang dipenuhi oleh vila-vila mewah (enak ya jadi orang kaya, punya Vila di tempat yang asyik), kami sampai juga di gerbang masuk Taman Wisata Curug Nangka. Gerbangnya cukup baik, cukup menggambarkan wisata hutan yang akan kami alami.
Untuk masuk ke tempat wisata ini biaya per orang adalah Rp 4000 dan per motor Rp 1000 (nanti untuk parkir harus nambah 2000 lagi -- yang ini entah legal atau ilegal).
bersambung... (mau kerja dulu :D )
Perjalanan yang rencananya berangkat jam 05.30 dari Jakarta sempat molor hingga beberapa jam karena ban motor teman kami bocor. Akhirnya kami baru berangkat dari Cawang-UKI sekitar jam 07.45.
Perjalanan dimulai dengan mengarahkan motor kami ke arah Bogor, melalui Pasar Kramat Jati. Perjalanan ke Bogor ini kami jalani dengan sangat pelan (rata-rata 50 Km/jam) karena kemacetan di mana-mana. Kalo berangkat dari Jakarta sudah kesiangan, ya emang gitu deh... maceeeet T__T
Dan seperti biasa, di antara kami berlima, tidak ada satupun yang tahu jalan ke arah Curug Nangka (kebiasaan nih... jalan cuma tahu tujuan, dan kemudian mengandalkan 'ntar nanya aja ama orang'), untungnya kami (aku dan Yani) sudah mengetahui bahwa kira-kira letak Curug Nangka itu di daerah Bogor, dan untungnya juga aku sudah beberapa kali naik motor melewati Bogor, termasuk ketika ke Ujung Genteng beberapa waktu yang lalu. (Heran juga sih, kok yang lain pada mau ikutan yak, padahal aku sendiri waktu ngajakin udah bilang bahwa aku gak tau tempatnya secara pasti, hanya tau 'di arah ke Puncak', dan hal ini pin tidak sepenuhnya betul, karena Curug Nangka berada di Ciapus, bukan di daerah Puncak :D :D )
Untuk ke Curug Nangka ini, dari Jakarta Kami melalui Cimanggis, sedikit menyentuh Depok, kemudian Cibinong, dan akhirnya Kota Bogor.
Setelah melewati Terminal Baranangsiang (terminal ini berada di kanan jalan, dan mungkin kamu tidak akan melihatnya jika tidak memperhatikan) menuju ke arah puncak, kamu akan menemui jalanan yang mirip dengan jalan Dago di Bandung (banyak Factory Outlet) dan kemudian akan bertemu dengan pertigaan yang ada lampu merah dan bunderannya, dan di situ ada petunjuk jalan bahwa untuk ke Ciapus kami harus memutar di bunderan, ke arah kanan. Nah jalan inilah yang kita ikuti, menuju ke arah Ciapus.
Jalan menuju ke Ciapus ini aspalnya cukup baik, dan jalannya cukup sejuk karena di kanan-kiri jalan masih banyak pepohonan. Kami juga melewati beberapa peninggalan sejarah, salah satunya adalah istana batutuilis, namun kami tidak menyempatkan diri untuk mampir karena tujuan utama kami belum tercapai dan belum tau masih sejauh apakah kami dari tujuan ?
Dalam perjalanan, nanti kamu bakalan menemui sekolah, kemudian ketika bertemu dengan lampu merah pertigaan Pasar kamu ambil jalan yang lurus aja,jangan ke kanan, soalnya kalo ke kanan berarti kembali ke kota Bogor.
Pokoknya jalan ke arah Ciapus itu luruuuuuuus terus... baru nanti ketika ada pertigaan jalur Angkot no 3 (jurusan Ciapus), baru kamu ambil jalan yang ke kiri (jalannya agak naik, dan di situ banyak angkot yang mangkal.. so gampang diketahui).
Nah.. jalan inilah yang kondisi jalannya agak jelek... beberapa bagian jalan ada yang rusak, namun tidak parah kok.. masih jauh lebih parah jalan ke Ujung Genteng, dan hanya sekitar 2 kilometer yang jalannya jelek.
Kamu akan menemui Pusat pelatihan kelautan (atau perikanan ya?), trus juga menemui sebuah gang yang namanya unik, Gang Bebas :D
Kemudian setelah jalan yang jelek ini, nanti akan ditemui lagi jalanan yang mulus, berkelok-kelok, dan naik turun (seru bangeeeeet !) dan setelah berkendara beberapa menit, kamu akan menemui papan penunjuk jalan ke arah Curug Nangka di suatu pertigaan. Kamu ambil jalan ke kiri, dan jalan ini agak jelek juga... tapi tenang... cuma sebentar kok... udah hampir nyampe :) (Kalo dihitung, kira-kira jarak ke Curug Nangka ini adalah sekitar 20Km dari Kota Bogor)
Oh ya, sebelumnya kamu juga bakalan ketemu ama Indomaret di sebelah kiri jalan, so bagi yang gak bawa bekal, bisa beli di Indomaret ini (Aku sempat heran, kok Indomaret selalu ada di dekat tempat wisata yak? -- dulu waktu ke Ujung Genteng juga ada Indomaret)
Akhirnya, setelah melewati jalanan yang dipenuhi oleh vila-vila mewah (enak ya jadi orang kaya, punya Vila di tempat yang asyik), kami sampai juga di gerbang masuk Taman Wisata Curug Nangka. Gerbangnya cukup baik, cukup menggambarkan wisata hutan yang akan kami alami.
Untuk masuk ke tempat wisata ini biaya per orang adalah Rp 4000 dan per motor Rp 1000 (nanti untuk parkir harus nambah 2000 lagi -- yang ini entah legal atau ilegal).
bersambung... (mau kerja dulu :D )
May 29, 2008
Tips Fotografi Terbaik (untukku)

Setelah ratusan halaman web kujelajahi (hiperbolis nih..), ratusan orang kutanyai (ini juga hiperbolis) demi meningkatkan kemampuan fotografiku, akhirnya aku menemukan dua tips terbaik untukku yang justru tidak kudapat dari ratusan halaman web tsb.
1. Pede aja lagi !
Kenapa Pede aja lagi ? Ini berdasarkan pengalaman pribadiku plus beberapa wejangan dari Riyandi dan Firza. Tiap kali membidik objek, aku gak pernah Pede. Terutama ketika di dekatku ada orang yang membawa kamera yang lebih canggih, gaya pakaiannya nya lebih 'fotografer', gaya ngambilnya lebih 'fotografer' dst...
Trus, kenapa harus Pede ? Gimana biar Pede ?
Gini, waktu kemarin ke Ujung Genteng, aku menjepret beberapa foto momen matahari sedang terbit... nah, aku memfotonya dengan kamera SLR Canon EOS 88, tripod, dan bahkan Filter lensa (tanpa tau type filter dan efeknya :D ), menggunakan mode semi manual (lupa apakah pake Aperture Priority atau Shutter Priority) Nah... ternyata hasilnya.. lho kok jelek ya ? Padahal dulu aku pernah mengambil foto matahari terbit dengan kamera Poket (Canon Snappy S) dan hasilnya lebih baik dari ini.
Point nya adalah... meski orang lain pake kamera lebih canggih, lensa lebih panjang, tripod lebih bagus, dua asisten pembawa reflektor dst. belum tentu hasil yang mereka hasilkan lebih baik. Pada contoh kasusku, foto yang kuhasilkan under exposure (terlalu gelap) gara-gara salah setting, dan mungkin ketika menggunakan kamera poket malah lebih baik karena kameraku yang mentukan yang 'pas'.
Tuh kan... hasil kamera SLR belum tentu lebih baik dari kamera poket...
Ini baru dari sisi non artistik... (baru masalah teknis) Lha kalo yang menggunakan kamera poket bisa mengambil 'angle' yang tepat sementara yang SLR menggunakan 'angle' yang kurang tepat... hasilnya lebih jauh lagi tuh...
So.. Pede aja lagi... ketika mengambil gambar... pede aja lagi, dan tanamkan dalam pikiranmu, Ah... hasil dia belum tentu lebih baik dari hasilku kok :)
so.. apapun kameramu, pede ajaa... :)
Dan bagi yang menggunakan kamera analog sepertiku, ada faktor tambahan buat jadi Pede... berdasarkan pengalaman waktu mengambil foto di acara tahun baru, ketika itu sebelahku, seorang bapak yang kelihatan kaya dan sepertinya fotografer amatir semi serius, menggunakan kamera digital yang keren... mungkin EOS 40D + lensa tambahan.. ketika itu aku sedang memfoto, dan kemudian Bapak tersebut mengambil tempat di sebelahku untuk mengambil objek yang sama, setelah beberapa kali jepret, dia melihat kameraku dan berkata "Wah, pake analog ya Dik?" sambil ada sedikit nada kagum di kata-katanya.
Dengan kaget, karena tidak tau sedang diperhatikan, aku menjawab "Oh.. iya Pak, analog", dan kemudian adrenalin pun mengalir dan otakku segera berpikir "Wah gawat, jangan-jangan Bapak ini ntar malah nanya yang macem-macem, padahal aku gak tau apa-apa (lha wong motretnya pake mode program yang udah ada di kamera kok, gak pake manual-manual an)" Makanya abis itu langsung kabur dari Bapak itu, ha ha ha
Trus satu lagi keuntungan pake kamera analog... hasilnya gak keliatan saat itu, so kalo sebelah kita udah bergaya keren layaknya fotografer pro, trus kita Pede, bisa jadi orang lain yang menggunakan kamera lebih canggih percaya kalo kita bener-bener jago... toh tenang aja, hasil jepretannya gak bisa mereka liat... :D
2. Jangan pernah menyerah ketika lihat hasil fotomu jelek.
Mungkin terdengar klise atau biasa aja.. tapi ini beneran lhoo...
Dari salah satu dari ratusan halaman web itu ada yang menyatakan bahwa, Para pro itu juga menghasilkan ratusan gambar jelek, taoi yang ditunjukkan mereka kepada kita hanya satu yang terbaik.
Masuk akal juga sih... coba lihat fotografer di setiap pertandingan bola yang menggunakan lensa panjaaang, kamera canggih... berapa puluh kali menjepret, dan berapa yang ditampilkan di majalah ? Paling cuma satu atau dua kan ? Padahal tentunya mereka fotografer professional.
So... seperti kata Firza... (maaf detailnya aku lupa tapi intinya..) dalam seratus kali jepret, mendapatkan 3 foto yang bagus (3% dari jumlah jepretan) itu sudah sangat bagus. Nanti lama-kelamaan jika sudah menjadi jago, rasionya akan lebih baik.
So... kalo baru jepret lima kali dan melihat hasil fotomu mengecewakan, jangan menyerah, professional juga melakukan hal yang sama, hanya saja mereka tidak menunjukkan hasil jeleknya sehingga kita tidak tahu.
May 24, 2008
Kota tua
Ehm... perjalanan kali ini adalah menuju Kota Tua, Jakarta. Kota Tua terletak di dekat Stasiun Kota, Jika kamu tidak memiliki kendaraan pribadi, saya sarankan menggunakan jasa Trans Jakarta (Busway) untuk ke Kota Tua ini. Turun di halte Stasiun Kota (Halte terakhir) kemudian jalan sedikit menuju kota tua.
Pemandangan di kota tua... lumayan unik. Bangunan di sana rata-rata adalah bangunan Belanda dengan arsitektur gaya eropa jaman pertengahan. Sayangnya, kebanyakan dari bangunan di situ tidak terawat sehingga rusak di mana-mana, mulai dari catnya, temboknya, atau bahkan atapnya rusak.
Akhirnya setelah jalan-jalan sebentar ketemu juga daerah dimana banyak fotografer sedang beraksi. Di sini banyak sekali yang melakukan foto pra pernikahan... dan fotografernya juga membawa alat-alat yang membuat mental jadi drop (reflektor, lensa panjang, flash tambahan yang ada alat tambahannya -- gak tau apa namanya, tripod -- kalo ini aku juga bawa, meski gak dipake :p ) So memang benar bahwa Kota Tua ini memang sangat bagus untuk foto-foto :)
Kami (aku dan cm4nk ) mulai mencoba memotret-motret bangunan paling bagus di situ (Museum Sejarah Jakarta/Museum Fatahilah). Dengan berbekal 10 film (bukan 10 roll film yak) kucoba potret-potret seadanya dengan gaya seaksi-aksinya :D
Setelah beberapa kali memotret di Luar Museum Fatahilah, kami berpindah ke Museum di seberangnya (kalo gak salah museum senirupa dan keramik), tapi tidak masuk, hanya mengambil foto bangunannya dari luar.
Kemudian kami kembali lagi ke Museum Sejarah Jakarta, dan kali ini masuk ke museum.
Untuk masuk ke museum, per orang dikenai biaya Rp 2000,- dan di dalamnya.. ehm... banyak objek foto, terutama kalo yang suka dengan objek furniture jaman kuno(meski ada tanda larangan memotret, tapi ketika kami masuk, kami mengalungkan kamera kami dan tidak diminta menitipkannya tuh.. jadinya kami tetep memotret di dalam museum :p )
Setelah puas (film nya sudah habis) kami keluar, dan mencoba mengambil beberapa foto bangunan museum lagi...
Oh ya, bagi yang membutuhkan objek sepeda, di daerah Kota Tua ini banyak disewakan sepeda onthel jaman kuno... so jangan khawatir deh...
Ehm... kalo diliat-liat, sepertinya kalo malam, beberapa bangunan di Kota Tua ini akan lebih indah lagi, karena itulah kami merencanakan untuk kembali lagi minggu depan (kali ini dengan roll film yang masih full :p)
Ehm... hasil fotonya gimana ya... ntar kalo udah kucuci-cetak dan ada yang bagus kuupload... tolong komentari yak :)
Thanks you....
Pemandangan di kota tua... lumayan unik. Bangunan di sana rata-rata adalah bangunan Belanda dengan arsitektur gaya eropa jaman pertengahan. Sayangnya, kebanyakan dari bangunan di situ tidak terawat sehingga rusak di mana-mana, mulai dari catnya, temboknya, atau bahkan atapnya rusak.
Akhirnya setelah jalan-jalan sebentar ketemu juga daerah dimana banyak fotografer sedang beraksi. Di sini banyak sekali yang melakukan foto pra pernikahan... dan fotografernya juga membawa alat-alat yang membuat mental jadi drop (reflektor, lensa panjang, flash tambahan yang ada alat tambahannya -- gak tau apa namanya, tripod -- kalo ini aku juga bawa, meski gak dipake :p ) So memang benar bahwa Kota Tua ini memang sangat bagus untuk foto-foto :)
Kami (aku dan cm4nk ) mulai mencoba memotret-motret bangunan paling bagus di situ (Museum Sejarah Jakarta/Museum Fatahilah). Dengan berbekal 10 film (bukan 10 roll film yak) kucoba potret-potret seadanya dengan gaya seaksi-aksinya :D
Setelah beberapa kali memotret di Luar Museum Fatahilah, kami berpindah ke Museum di seberangnya (kalo gak salah museum senirupa dan keramik), tapi tidak masuk, hanya mengambil foto bangunannya dari luar.
Kemudian kami kembali lagi ke Museum Sejarah Jakarta, dan kali ini masuk ke museum.
Untuk masuk ke museum, per orang dikenai biaya Rp 2000,- dan di dalamnya.. ehm... banyak objek foto, terutama kalo yang suka dengan objek furniture jaman kuno(meski ada tanda larangan memotret, tapi ketika kami masuk, kami mengalungkan kamera kami dan tidak diminta menitipkannya tuh.. jadinya kami tetep memotret di dalam museum :p )
Setelah puas (film nya sudah habis) kami keluar, dan mencoba mengambil beberapa foto bangunan museum lagi...
Oh ya, bagi yang membutuhkan objek sepeda, di daerah Kota Tua ini banyak disewakan sepeda onthel jaman kuno... so jangan khawatir deh...
Ehm... kalo diliat-liat, sepertinya kalo malam, beberapa bangunan di Kota Tua ini akan lebih indah lagi, karena itulah kami merencanakan untuk kembali lagi minggu depan (kali ini dengan roll film yang masih full :p)
Ehm... hasil fotonya gimana ya... ntar kalo udah kucuci-cetak dan ada yang bagus kuupload... tolong komentari yak :)
Thanks you....
May 21, 2008
Ujung Genteng 17-18 Mei 2008 (Bagian 2-habis)

foto di atas bukan foto saya, saya ambil dari picturesart.files.wordpress.com
prev : ujung genteng bagian 1
Akhirnya, setelah puas melihat tiga pantai di seberang hutan, dan menentukan tempat besok pagi akan mengambil foto sunrise, kami semua keluar dari hutan, dan kali ini misi kami adalah mencari penginapan.
Ternyata, banyak sekali penginapan di sekitar situ, mulai dari penginapan yang biasa sampai dengan yang 'ditemani'.
Wuih.. ngeri juga yak...
Setelah bertanya-tanya ke beberapa penginapan dan ternyata penuh semua (kami hanya bertanya kepada penginapan yang biasa, tidak yang ditemani), akhirnya kami bertemu dengan seorang penduduk yang merelakan rumahnya untuk disewa, sehingga beliau, istri dan anaknya terpaksa tergusur untuk dua hari.
Kami mendapat harga 350rb untuk 2 hari. Harga yang relatif murah karena dibagi 7 orang, yang berarti Rp 25.000 sehari :) Dengan harga segitu, kami sudah mendapat fasilitas cukup lengkap (namanya juga rumah), mulai TV, DVD player, tape, kompor, piring, gelas, sendok... yaa lengkap lah.. soalnya rumah tsb memang untuk ditinggali... bahkan ada dua buah kipas angin juga di dua kamarnya.
Setelah mandi dan makan mie, kami pun tidur pulas, tidur malam itu sangat enak.. mungkin karena sudah kelelahan selama hampir 12 jam berkendara di atas sepeda motor. (ini adalah waktu terlama keduaku di atas sepeda motor, rekor terlamaku adalah 15 jam, waktu melakukan perjalanan dari Parakan-Jogja-Kebumen-Bandung dalam keadaan hujan lebat di separuh perjalanannya).
Paginya, jam 05.30 kami buru-buru menuju pantai... meski masih ngantuk dan masih lelah, namun semua itu tidak menghalangi kami untuk melihat sunrise (apalagi aku kan jam 09.00 pagi akan kembali ke Jakarta, jika tidak mendapat sunrise ini, buat apa capek-capek 12 jam perjalanan ke Ujung Genteng?)
Riyandi sang fotofrafer sudah duluan berangkat, dan aku menyusul. Sampai di pantai... matahari sudah mulai naik... tapi ada satu masalah... Mana Riyandi ? Masalahnya, meski aku membawa kamera SLR analog (Canon EOS 88) bukan berarti aku jago fotografi, justru kebalikannya.. aku mau minta diajari ama Riyandi cara motret, dan masalahnya Riyandi malah tidak berada di pantai yang 'dijanjikan'...
Wah.. masa gak jadi motret ? Karena udah bawa kamera, akhirnya kukeluarkan juga si kamera dan tripodnya, dan jepret-jepret ngasal (soalnya malu ama temen-temen yang lain yang berada satu pantai denganku kalo ketahuan aku gak bisa motret) Dan untungnya kameraku analog, so mereka gak bisa tau hasilnya bagus atau buruk, ha ha ha ha
Suasana pantai di pagi hari, sungguh menyenangkan, apalagi pantai Ujung Genteng sangat sepi dan indah... bagaikan memiliki pantai pribadi deh... yang ada di pantai saat itu hanya kami bertujuh !
Setelah matahari mulai naik... kami kemudian mencari
pantai lain yang enak untuk berenang... ternyata pantai di Ujung Genteng sangat bermacam-macam... ada yang dangkal, yang dalam, yang aquarium, yang ombaknya besar dst. Pantai nya juga bisa dilalui motor, kerena itulah kami dengan cepat bisa berpindah dari pantai satu ke pantai lainnya, dengan menyisiri pantai menggunakan motor.
Pokoknya asyik deeeh...
Setelah puas, kami pulang ke penginapan untuk menuju ke tujuan berikutnya...
Sayang, kali ini tujuan kami berbeda... Aku harus pulang karena hari senin masuk kerja, sementara yang lain akan melanjutkan 'perburuan' (mencari air terjun) Haduuuuh penginnyaaaaa T_____T
Jam 10.00 WIB, kami berangkat bersama dengan tujuan yang berbeda... hiks...
Tepat Jam 10.20 kami berpisah, rombongan 6 orang belok ke arah kiri (Ciracas) untuk memburu air terjun, sementara aku lurus (menuju ke Pelabuhan Ratu).
Kali ini aku memilih jalur Pelabuhan Ratu karena kata Bapak pemilik warung yang anaknya cantik, jalur Pelabuhan Ratu jalannya lebih baik. Dan memang benar, selain jalannya lebih baik, pemandangannya juga lebih indah, ada beberapa tempat yang mirip dengan puncak meski tanpa kabutnya... aku sempat berhenti beberapa kali untuk sekedar menghabiskan Roll film..
Selain itu, perjalanan pulang ini lebih kunikmati, tidak ngebut, banyak berhenti (foto-foto, minum kelapa muda dari buahnya langsung - harganya Rp 2500, istirahat di pom bensin, makan siang, dan bahkan sempat mampir ke rumahnya Iway). Sampai di Slipi, Jakarta Barat sekitar jam 18.50.. dan selesailah perjalanan ke Ujung Genteng yang melelahkan namun mengesankan itu...
Jika kamu punya libur lima hari, aku sangat menyarankan untuk ke Ujung Genteng, meski sangat jauuuuuuh, tapi sangat sepadan kok (apalagi kalo jalannya sudah dibenahi), dan aku sarankan agar kamu (termasuk yang dari Bandung) agar melewati jalur Cibadak.
Dari arah Jakarta, kamu akan menemui Cibadak ini sebelum memasuki kota Sukabumi, bagi yang dari Bandung, jika mau ke Cibadak, harus melewati Sukabumi dahulu ke arah bogor kemudian belok kiri di pertigaan yang mengarah ke Pelabuhan Ratu (ada penunjuk jalannya kok, tenang aja :p ) tapi kalo liburannya hanya 2 hari... ehm... sebaiknya jangan.. karena kamu akan terlalu kecapekan ketika masuk kerja pertama kali.
Foto-fotonya gimana ? Ehm... ntar kalo udah ku cuci cetak, dan ternyata ada yang bagus (sebenarnya gak yakin ada yang bagus sih...) akan ku upload kok :)
Kata Om Rizzurant, next trip nya ke Pangandaran... humm.. asyik nih :) Semoga bisa ikutan bertualang lagi :)
Hayuk pada ikutan yuuuk !
May 19, 2008
Ujung Genteng, 17-18 Mei 2008 (bagian 1)

Ujung Genteng, 17-18 Mei 2008.
Ujung Genteng is a remote coastal village, some 150 kilometers from Sukabumi. It took five hours to reach the village by private vehicles from Sukabumi because of the poor roads.
Public transportation does not reach the village as normally people would stop at the nearest village Jampang Surade and then walk along a dirt road to reach Ujung Genteng.
Fishing is the main source of livelihood for Ujung Genteng villagers.
Ya, itulah Ujung Genteng, Sebuah daerah wisata yang masih cukup alami, masih cukup bersih dan tidak terlalu ramai.
Gimana ceritanya sampai berkunjung ke Ujung Genteng ?
Semuanya serba tiba-tiba dan tanpa persiapan.
Hari Jumat malam, sekitar jam 20.00, aku chatting ama Riyandi, dan kami berbicara mengenai blog, mengenai les drum, mengenai foto, mengenai seorang backpacker yang sangat menginspirasi kami, dan akhirnya mengenai rencana riyandi hunting foto ke Ujung Genteng bersama teman-teman lab nya dari STT Telkom.
Entah bagaimana (sepertinya karena terinspirasi oleh backpacker dan karena melihat foto-foto Ujung Genteng yang menabjubkan-Riyandi menambahkan bahwa ujung genteng adalah surganya fotografer) aku kemudian tertarik dan bilang "Eh, gw ikutan ke Ujung Genteng yak" tanpa persiapan apa-apa :D
Paginya, aku ke tempat Adhy buat pinjem tas (tas ku udah rusak berat) dan kemudian jam 9.20 berangkat menuju ke Ujung Genteng. Asyiknya, aku sama sekali gak tau jalan ke ujung Genteng, hanya dikasih tahu, bahwa untuk ke Ujung Genteng, aku harus melalui Sukabumi. Padahal jalan ke Sukabumi aja gak tau, dan hanya tau bahwa Sukabumi itu (jika dilihat di peta) ada di bawah Jakarta :D
Akhirnya, setelah bertanya pada banyak orang, tahulah bahwa untuk ke Sukabumi, harus melewati Bogor. Sip, dengan ditemani lima buah lagu di Handphone Sony Ericcson + Headset Walkman Series, aku berangkat menuju Ujung Genteng.
Kemudian masalah pertama datang, ternyata aku gak tau jalan keluar dari Jakarta menuju Bogor, so ketika di UKI, aku bingung dan sempat nyasar ke arah Bekasi. Beruntung nyasarnya belum terlalu jauh (karena melihat tanda jalan bahwa jalan yang kulaui menuju Pondok Gedhe, dan itu daerah Bekasi, bukan Bogor! -- bener ga? )
Singkat cerita, aku sudah dalam perjalanan melewati Cibinong, Kota Bogor dan kemudian akhirnya Sukabumi. Di Sukabumi inilah aku dan Riyandi dkk janjian untuk bertemu. Akhirnya kami bertemu di Masjid Agung Sukabumi. Sungguh kebetulan bahwa rombongan dari Bandung (6 orang -- Riyandi, Rizzurant, Max_steel, ehm... yang tiga lagi namanya siapa yak, lupa.. maaf, nanti kuupdate setelah ingat-- menggunakan 3 motor) dan rombongan dari Jakarta (1 orang --silverant-- menggunakan satu motor) hanya berbeda sekitar 7 menit sampai ke Masjid Agung Sukabumi (aku sampai di Masjid Agung Sukabumi sekitar jam 13.30). Berati Jkt-Sukabumi ditempuh dalam waktu 4 jam, cukup lama memang, karena macet di mana-mana, mungkin karena libur panjang juga (Bagi yang mengambil cuti di hari senin, bisa mendapatkan libur 5 hari karena hari selasa adalah hari waisak).
Setelah Sholat Duhur, kami melanjutkan perjalanan menuju ke Ujung Genteng. Dari Bapak yang menjaga tempat parkir masjid, kami diberitahu jalan 'terbaik' menuju Ujung Genteng.
Wah... ternyata jalan ke Ujung genteng, benar-benar paraaaaaaaah T____T jalannya rusak berat, jadi hanya bisa dilalui dengan kecepatan rata-rata 35km/h.
Ketika sampai di pertigaan Ciareuy, kami sempat terhenyak waktu melihat papan penunjuk jalan. Waktu itu sekitar jam 15.30, dan di papan penunjuk itu tertulis bahwa Surade (seperti nama ninja cewek dalam film Naruto) masih 90 Km dari tempat tersebut !!
Wow.. dengan kondisi jalan seperti ini, sampai di Ujung Genteng jam berapa ya ? Padahal dari Surade ke Ujung Genteng (jika dilihat dari peta) masih ada setengahnya lagi... hiks...
Tapi dengan kebulatan tekad, jadilah kami melanjutkan perjalanan... dalam perjalanan kami sempat 'bertarung' dengan dua buah 'truk setan' (truk sopir yang mengemudi dengan cara yang ngawur, dan menutup jalan kami untuk menyalip).
Sebenarnya, jika jalannya mulus sih, mudah saja untuk menyalip mereka, sayangnya jalan yang buruk membuat kami sangat susah untuk mendahului dua truk setan ini.
Ternyata keasyikan belum berakhir, di tengah jalan ban salah satu motor kami bocor sehingga harus ditambal, padahal di daerah terpencil seperti itu (dimana jarak antar penjual bensin eceran saja sangat jauh), tentu saja penambal ban juga sangat jarang, tapi untungya ban bocor hanya beberapa ratus meter dari panambal ban terdekat-untuk kejadian ini, saya tidak ikut merasakan karena saya sudah berada jauh di depan dan saat itu sedang menikmati kopi panas dan ditemani cewek cantik, anak penjual kopi di 'kota' terdekat (di depan kantor polisi Pasawahan, warung makan sebelah toko alat tulis, anak gadisnya cantik lhoo... mungkin umurnya sekitar 16 tahun) :D
Setengah jam kemudian, sekitar jam 18.30 sampailah rombongan 'ban bocor' dan kami melanjutkan perjalanan lagi. Dan kali ini perjalanan jauh lebih menantang bagiku. Sudah bukan rahasia lagi bahwa aku tidak ahli dengan perjalanan malam hari. Selain lampu motorku yang sangat remang-remang (kalah ama lampu senter) dan menghadap ke atas, mataku pun agak kurang baik untuk melihat malam hari (kenapa ya?), ditambah minus yang gak kupakein kacamata (pake softlens sih, tapi kalo lagi naik motor gak dipake).
So perjalanan malam itu sungguh mendebarkan bagiku, apalagi punya pengalaman buruk dengan berkendara di malam hari (pernah jatuh)... Yang bisa kulakukan hanyalah mengikuti motor di depanku dengan tepat, ban motorku harus menginjak jalan yang diinjak ban motor di depanku agak tidak mengenai lubang. Namun hal ini ternyata bukan perkara yang mudah, dengan kecepatan kira-kira 40km/jam dan ku maintain jarak antara motorku dengan motor di depanku sekitar 2m, tetap saja aku beberapa kali terkena 'ranjau' jalan berlubang, bahkan ada lubang yang karena terlalu dalamnya membuat pergelangan tanganku 'cedera'.
Dan.. ups... masih ada keasyikan lagi, selama perjalanan malam yang panjang itu tidak terlihat penjual bensin eceran.. akhirnya setelah bertemu Pom Bensin resmi, kami pun berhenti, tapi... wuih.. antrinya parah banget. Bahkan Bapak-bapak yang sedang mengantri di situ berkata bahwa ada mobil yang sudah mengantri selama 3 hari untuk mendapatkan bahan bakar, padahal saat itu beberapa motor kami sudah kehabisan bensin.
Kemudian kami memilih membeli bensin eceran yang terdapat di dekat Pom bensin tersebut daripada mengantri. (Lho katanya gak ada penjual bensin eceran? Hehehe.. ternyata ada kok, cuma waktu itu aku gak liat, ternyata beberapa ratus meter sebelum pom bensin, di depan masjid, ada penjual bensin eceran maaf... :p)
Di pertigaan terakhir sebelum Ujung Genteng, kami menemukan Indomaret yang cukup besar untuk ukuran 'kota' di situ. Indomaret ini tampaknya buka hingga larut malam, dan cukup lengkap, so bagi yang ingin ke Ujung Genteng, tidak perlu khawatir akan bekal makanan. Di situ lengkap kok. Eh iya, di Indomaret ini harus pake uang cash, soalnya belum punya mesin EDC buat bayar pake 'gesek' kartu :)
Akhirnya....setelah mengendarai motor selama 2,5 jam yang sangat menantang... sampai juga ke Ujung Genteng...(di pasar ikan Ujung Genteng) Waktu itu jam 20.44, langsung deh kami semua merasa bersyukur, akhirnya telah sampai juga ke Ujung Genteng, tak lupa aku mengirim sms kepada orang yang kusayang, mengabarkan bahwa (akhirnya) aku sudah sampai... :)
Setelah itu, kami kemudian mencari 'tempat wisata' nya yang katanya (kata seorang penduduk) kalo malam minggu ramai sekali.
Nah, jalan ke tempat wisata ini ternyata melalui hutan-hutan yang gelap gulita... bahkan beberapa dari kami sangat ketakutan dan tidak mau motornya berada pada posisi paling belakang (mungkin takut diculik oleh makhluk halus) :D :D
Apalagi ketika di tengah hutan tersebut melihat bangunan tua (mungkin bekas benteng ??) yang dengan diterangi sinar bulan purnama yang pucat, tampak sangat mengerikan... kami semua hanya bisa mengendarai motor dengan terdiam (hi hi hi pasti lucu kalo ada kamera yang menyorot wajah kami waktu itu :D ). Dan ternyata, yang dikatakan 'ramai kalo malam minggu' itu adalah keramian semu, tidak ada orang sama sekali di pantai ! Ramai apanya !!?? rame hantu nya kali yak :p
bersambung... next ujung genteng bagian 2
Subscribe to:
Posts (Atom)